Rabu, 26 Maret 2014

Akan ku awali semua dengan kata 'hai', cukupkah bagimu? 

Segala yang ditinggalkan nanti akan kembali ke rumahnya, seperti aku, kembali kesini, ke duniaku. Sudah berapa lama aku mengabaikanmu? sibuk menarik perahu-perahu kecil untuk singgah di dermagaku. Hasilnya? kamu bisa lihat, masih saja kosong. Setelah dia, ku kira tidak akan adalagi yang perlahan-lahan memasuki lorong sempit di hati. Sudah berapa banyak yang berhasil menginjak lantai berwarna gelapku? tentu mereka belum sehebat kamu untuk berada di puncak. Tapi, jangan kira kamu hebat sekali, karena aku sudah berhasil pula melupakanmu! 

Jatuh cinta adalah ketakutanku untuk kecewa--lagi.
Laki-laki perantau itu berhasil membuat segala-galanya berbeda. Aku mendapati cemas ketika malam itu ia pamit untuk ke puncak Lawu. Aku rasakan rindu yang kosong. Kamu di puncak Lawu, apa kamu rasakan sepertiku?
Aku telah jatuh cinta, mungkin. Ku kira hanya dalam FTV, saat 2 orang manusia jatuh cinta hanya lewat medsos. Dan 3 bulan lagi, beri aku seutuhnya kejujuran kamu, karena aku telah jatuh cinta. 

Harus berapa kali lagi aku mencoba menemukanmu, laki-laki baik.
Dan bisa kau tebak, aku gagal lagi untuk membuka hati. Untuk laki-laki perantau--kenapa kau hadirkan ragu, sesulit itukah menaruh percaya untuk 2 insan yang terhalang jarak. Terimakasih untuk berdiri di puncak Lawu dan berfoto menggenggam kertas bertuliskan salam untukku--darimu, ketinggian 3625 mDpl. 

Selanjutnya siapa lagi, kamu?

Jumat, 24 Januari 2014

My Dealova

Apa kabar kamu dealovaku?
Apa kabar kamu yang memeluk rindu bulan lain?
Apa ada yang ingin kamu beritahu, sebelum aku tahu, kamu adalah kumpulan janji yang tak akan di genapkan. Kumpulan janji yang ku pegang atas nama kepercayaan. Kumpulan janji yang diterima oleh telingaku dari bibirmu. Kumpulan janji yang hanya melayang-layang di udara tanpa pernah kamu tangkap. Kumpulan janji yang aku tahu akan seperti ini...kecewa.

Apa lagi yang kamu sembunyikan, sayang?
Semua seperti mengasingkan bagiku. Aku terpojokan mengertimu atau menyalahkanmu. Tameng apa lagi yang akan kamu kenakan. Aku sudah hapal kemana kamu mengacu, sudah hapal kamu harus belok ke kanan atau ke kiri, bahkan lurus. Tapi masih saja sama, aku belum mengerti, Tuhan.

Kalau kamu baca sekian lembar post ini, aku hanya ingin kamu tahu, sesakit apa di tinggalkan untuk segalanya yang kamu  terbangkan, dan kemudian jatuh begitu saja. Tanpa ada kerusakan atau alasan. Kamu lepas kendalinya, kamu buang jauh, dengan aku yang masih belum jelas akan jatuh di tempat seperti apa-atau mati. 

Kalau kamu baca post ini, aku ingin kamu tahu, hidup tak sesulit mengerjakan matematika ekonomi di kelas perkualihan kita. Hidup hanya perlu kamu dekatkan dengan kebahagiaan, sama seperti 3 bulanku kemarin, dealova.

Boleh aku bersujud lama sekali agar Tuhan menjabah doaku? aku harap ini mimpi.
Apa aku harus berdoa dengan lantang agar doaku tak terselip mereka-mereka di dunia.
Bisa ku rapatkan kedua tanganku erat-erat, agar pemberian Tuhan atas doaku tak lari.

Sayang, kamu selalu bilang "pacarku gak manja", apa ini cara kamu mengujiku? 

Kamu selalu bilang aku kuat, apa ini cara kamu mengujiku?

Kamu selalu bilang aku baik, apa ini cara kamu lagi-lagi mengujiku?

Bagaimana nilaiku?..........aku harap ini mimpi.




Minggu, 19 Januari 2014

Cinta tak lebih polos dari kamu

Cinta tak melulu atas rindu
Di setiap kata yang kamu gaungkan di sela pelukan
Pikiranku terbang
Kamu bisa cumbui aku sampai mati

Kamu tahu aku percaya,
atau ada senyum bertameng pedang yang akan kamu tusukkan?

Cinta baru saja berjalan
Baru mulai keluar dari kepolosan rumahnya
Dari hangat mantannya

Ku kira aku terbebas luka
Karena kamu memujaku hingga aku muak
Semuak itu pula aku meninggi dan menanti
Mengganja,

Cinta baru sejengkal aku raba
1 minggu untuk aku percaya
selebihnya....kamu masih lebih polos.

Dan kamu lari,
Memanfaatkan waktu 1 semester
Apa yang kamu raih atas nama cinta?
Nilai?
Uang?
Berhasil menang dengan kawanmu?

Cinta tak melulu atas nama tulus
Maafkan cinta yang perihnya memangsa pikiran
menggeragoti waktu
mengelopeki kulit ari terluar hingga daging merah segar menampak
menguras air mata yang di-tolol-tolol-kan
hingga berpikir untuk lompat dari gedung lantai 9 agar cinta mengibanya.

Sabtu, 11 Januari 2014

Demi jiwa yang sakit, untuk kembali ke dalam tulisan. Ku kira kamu seabadinya lovestory yang pernah ku baca. Ku kira kamu adalah bangunan kepercayaan lagi. Kamu.....kamu adalah hal yang tepat, pilihan yang aku raih di dermaga sepi dan gelap. Lalu kenapa aku kembali kesini. Seharusnya kamu bisa tahu. Aku mulai meragukan kembali semuanya. Aku mulai tidur bersama fajar yang mulai terbit. Mulai memutar otak bagaimana amnesia bisa tiba-tiba saja ada di tubuhku. Bagaimana kontraksi berpikir terlalu keras tidak akan berpengaruh lagi pada tubuhku.

Sekarang bisa kamu tebak perasaanku? dan jawabanku akan selalu tidak. Kamu hal terjauh yang ku kira akan bisa menebak perasaanku. Senang. Sedih. Bosan. Sayang. Bahkan, cinta. Walau secara jelas aku ada di depanmu dengan mata berair. Dan kamu akan tetap bertanya 'kenapa'.

Menulis adalah kisaran langkah terjauhku akan gelap, tentu selain meminum gelasan kopi perhari. 

Selasa, 29 Oktober 2013

Heartbreak Warfare.

Heartbreak warfare. 
Bisa kau bayangkan kata tersebut? apa aku harus maju untuk cinta yang 3 minggu kemarin begitu indahnya. Apa aku harus maju untuk kamu yang begitu rahasianya mendapati sisa-sisa perasaan yang lalu. Apa aku harus maju, lalu mendapati hatiku yang kian lama menyebutmu cinta. Apa aku harus maju demi kamu. Demi kamu seseorang yang asing untukku, yang perlahan-lahan membangun tahtanya di pikiranku. Meluaskan meganya hingga aku jatuh dalam waktu yang sempit. Mengukir siluet yang kian lama hadir sejengkal di belakangku. Apa aku harus maju....

Demi Tuhan aku belum sebahagia ini jika kamu tak hadir. Tak menjangkau ruang yang ada di hatiku.


Kamis, 24 Oktober 2013

"Bagaimana bisa kamu disampingku tapi begitu lekatnya pula sepi denganku"

Sabtu, 19 Oktober 2013

Jauh-jauh aku melupakan, tapi bagaimana bisa aku dihadapkan dengan sebuah pilihan yang begitu membelakangi satu sama lain.
Jauh-jauh aku berlari, tapi bagaimana bisa aku tertimpa runtuhan kelam kembali.

Kamu tahu, aku bercerita dengan iringan lagu. Sampai detik ini, aku tidak pula tahu, bagaimana sebuah lagu bisa begitu menyindirku sedalam ini. Bisa sampai menerjunkan beberapa tetes air mata yang entah karena apa dan kemudian ada segelintir kehangatan yang lewat, menembus rongga-rongga dadaku. 
Aku me-replay berkali-kali lagu ini. Entah untuk apalagi, barangkali kamu sudah muak denganku. Tapi aku tak pula lupa akan janji yang begitu dinginnya sampai ke hatiku-janjimu. Aku tak akan lupa bagaimana kamu berjanji pula akan menggenapkan itu padaku. 

Bagaimana bisa kamu cinta-melepaskan? 

Dan aku terlalu dini untuk berkata kamu-cinta. Aku adalah asa masalalu yang kebetulan hadir di depan matamu. Aku adalah sisa bayang masalalumu yang kamu tuduhkan mirip denganku. Dan lagi-lagi aku menilai terlalu dini, untuk kamu menyayangiku.

Lalu saat kamu tahu aku ada, kemana tatapanmu?

Segala-galanya benci adalah aku yang kamu hindarkan. Yang kamu paksa jauhkan. Aku tak bisa menilai bagaimana perasaan begitu sulit untuk kita. Aku tak memilihmu. Aku juga tak pula menjauhkanmu. 
Dan kamu membunuhku dari tatapanmu, ketika aku menatapmu. Ketika aku sengaja mencari-apakah aku masih ada, dalam sepasang matamu.

Jika kamu memaksaku, aku akan memelukmu, kemarin.

Mereka berkata, aku adalah usaha-usaha yang dihadirkan. Sejak saat itu, kamu diam. Entahlah aku tak mengerti apa maksudnya, aku hanya hanyut menilai-siapa yang mengusahakanku. Maaf kalau cinta begitu ku persulit. Sebab kecewa akan hadir, aku memilih untuk merantai hati.

Dan kini aku dipeluknya.

Apa yang kamu nilai?

Apa yang kamu pikirkan, kalau masih banyak wanita lainnya, katamu.





E   D#m     G#       C#m        A  B 


  E   D#m      G#          C#m          F# 


  F#m                G#m 


     A                B 


  F#m                G#m 


  A                 B 



[chorus] 
E      B  

D           C#          F#m     G#m


 Am            B          G#m        C#m 


       F#                          B 


E      B  

D         C#          F#m     G#m




[intro] E D#m G# C#m A B 


  F#m                G#m 


  A                 B 


[outro] E A E A