Sabtu, 30 Maret 2013


 

Perempuan itu menghilang. Entah lenyap dimakan sakit hati atau melihat namun tak memberi respons. Sebenarnya kamu di mata saya adalah hal ke sekian yang saya takutkan karena sebuah kehilangan. Kehilangan berbeda dari sebelumnya yang berhasil saya dapatkan kembali. Kehilangan yang membawa saya pada akhirnya kembali ke rumah saya. Rumah tua yang akan kami renovasi kembali. 





Puisi Sepi

Pagi ini begitu menguras habis peranku
Entah akan berdiri sebagai apa
Di tepi kesepian kamu berdiri
Entah menarik lembut lengan siapa

Aku seperti awal menulis bait puisi
Melupakan kiasan yang memutar otak
Dan aku menulis apa
Aku tak ingat

Puisi sepi ini tak berhulu
Namun tetap mencari hulu
Meski aku tahu
Hulu tak akan ada, untuk kamu di setiap baitku.


Jumat, 29 Maret 2013

Karena Hati tak perlu Memilih (Part 1)



Bukankah aku sudah melabuhkan janji saat semuanya kembali. Tapi kenapa ia masih saja ku temukan dalam setiap kecewa yang membingungkan? atau ku kira kami memang tidak berjodoh.


Kalau jodoh bisa ku pinta, aku akan memilihmu.


Terakhir kali, aku menemui laki-laki itu di lorong-lorong kelas di SMA. Laki-laki berperawakan tenang, tinggi, rambut sedikit gondrong yang menarik perhatian guru killer saat SMA untuk memangkas asal rambutnya. Aku sering menemui jantungku berdebar ratusan kali lebih hebat dari biasanya saat di hadapannya, tapi aku tak akan bisa menangkap matanya, sama seperti aku yang tidak akan bisa mencintainya, kala itu.


Bagaimana bisa setelah 3 tahun, aku merindunya.


Menunggu kiranya adalah perasaaan yang selalu siap dengan ketidakpastian, sama seperti rindu yang kian memuncak setelah 3 tahun aku kehilangan mata sendunya, selalu tak pasti, sampai senja-minggu-ke-8105, dia datang kembali setiap fajar dengan kata 'halo' yang menggaungiku sampai detik ini.


 "Karena hati tak perlu memilih"


Itulah sepenggal kalimat yang ia ucapkan selepas perkataanku kalau-dia-bukanlah-pemilik-rindu-rindu-murniku, di perpisahaan kita.  Tidak! bahkan dia tak mau menyebut itu perpisahaan. Selalu saja, selalu ia mampu mengenyuhkan perasaanku, tapi tidak untuk hatiku. Selalu. 

***

"Hai, apa kabar" Kata laki-laki itu mengagetkanku.


"Baik, kamu? akhirnya setelah 3 tahun" Kataku sambil tersenyum.


"Iya, kamu masih terlihat dingin, Kalea"


"Dan kamu masih saja menghipnotisku dengan matamu, Danial"


"Ada apa?" Ucap Danial mencari arah gerik mataku.


"Ah, kamu masih saja.....masih sama seperti dulu"


"Aku siap memasang telingaku lebar-lebar untukmu, asal kali ini kamu yang teraktir"  Danial mengangkat alisnya.


Danial yang paling tahu keadaanku, sejak dulu, sejak aku menangis di depannya dan mengatakan pemilik rindu-rindu murniku bukanlah Danial, bahkan Danial sudah tahu sebelum aku mengatakannya, dan kemudian ia memintaku melabuhkan kemana pun hatiku akan berlayar. Jauh. Entah kemana perginya.

Danial memainkan cangkir kopi di tangannya, memutar-mutar cangkir, sambil sesekali menatap mataku. Rambutnya yang dibiarkan sedikit panjang melebihi telinganya kini terlihat acak-acakan tertiup angin, kumis tipis yang akhirnya ia dapatkan setelah 3 tahun lalu di idam-idamkan, dan kacamata dengan frem hitam yang kini menghiasa wajahnya. Manis sekali.


Danial yang tak lagi sama. Sudah tak ada lagi debar jantung yang ratusan kali lebih cepat kali ini. Apa perasaanku berubah atau semakin dalam. Aku mulai mendoktrin diriku, ini tak akan berbeda, tak akan. Terlebih hubunganku dengan Ferdian sudah berlangsung selama 3 tahun belakangan ini. Tak mungkin aku menyerahkan begitu saja padanya, pada Danial yang dulu tak pernah mempunyai tempat di hatiku, sedikitpun.

Pembuktiannya sudah ada dan ini tak mungkin terjadi lagi. Tak mungkin aku mengulang hal bodoh untuk ke dua kalinya. Tak mungkin aku membiarkan rasa bosan menguasaiku dan menjadikan Danial pelampiasan kembali. Kembali memutuskan kekasihku, lalu berpacaran dengan Danial dan sebulan kemudian aku akan bilang “ ini bukan cinta tapi hanya fatamorgana di tengah kemarauku bersama Ferdian, aku tak sejatinya mencintaimu, Danial”.


AH! Nyeri membayangkannya saja. Aku masih ingat sekali tatapan Danial yang begitu sendu seperti langit sore yang akan berganti malam. Tatapan yang ingin diyakinkan bahwa ini semua adalah mimpi. Aku sakit hati melihat Danial. Aku sakit hati pada diriku yang tak bisa mencintainya kala itu.



***


Kalea, saya tidak bisa membohongi semuanya. 3 tahun tak cukup untuk meninggalkan sisa-sisa perasaan saya untuk dia. Perasaan rindu berkepanjangan yang memerlukan dia untuk membilas habis semuanya.


Kalau jodoh bisa saya pinta, saya akan memilihmu, Kalea.


Sungguh kalimat itu sejatinya adalah sebenar-benarnya perasaan saya terhadapnya. Bagaimana di sela-sela tidur tak nyenyak saya selalu dibarengi dengan wajahnya. Bagaimana saya mencoba menggantikannya dengan Annisa, perempuan Jogja yang beberapa bulan ini kian hadir di hidup saya. Perempuan lembut yang selalu menjaga tingkah lakunya di manapun dan kapan pun. Bagaimana bisa saya mengabarkan semua itu terhadapnya.


Kelu. Sekelu-kelunya perasaan saya terhadapnya. Sejak 4 tahun lalu saya menyerahkan perasaan saya pada Kalea. Sepenuhnya. Seutuhnya. Sampai saya linglung harus seperti apa menghadapinya, harus bersikap apa saat di depannya, seperti apa menempatkan diri saya saat ia sedih karena pacarnya (dulu), dan harus seperti apa saat saya mengetahui Kalea telah sendiri serta meminta saya selalu berada di sampingnya.


Saya bisa apa. Ketika mimpi saya meminta saya.


Mimpi. Kalea adalah mimpi bagi saya. Mimpi yang terlampau jauh tanpa usaha. Saya tak pernah sedikitpun berusaha menggapainya.  Ini cinta yang sulit. Namun, saya masih tetap mengusahakannya lewat doa. Saya harap Tuhan mendengarkannya, saya harap Tuhan memastikan doa-doa saya tercatat  secara lengkap tanpa tertinggal 1 kata pun.


Lalu saat mimpi saya meminta saya. Saya bisa apa saat ia memerlukan pelukan hangat dari saya ketika jenuh pada kekasihnya. Meminta saya menemaninya walau hanya sekadar mutar-mutar di Mall. Saya bisa apa saat ia memutuskan pacarnya demi saya dan menyudahi hubungan kami ketika dia sadar, saya-dia-hanya sesaat. Saya tidak bisa menolak itu. Saya tidak bisa menolak,  ketika mimpi saya meminta saya.


Silahkan. Silahkan ia sebut saya tak punya prinsip. Tapi dia seharusnya mengerti, cinta tanpa prinsip adalah hal yang tak mudah. Tak dangkal. Bahkan, tak berujung. Sudah saya cari ribuan  hulu dari semua ini, tapi saya belum juga menemukannya. Bantu saya Kalea, bantu saya untuk menemukan titik-titik cahaya atau jurang kematian.


***
Aku mumutuskan hubunganku dengan Ferdian. 

Dan bisa kalian tebak, aku kembali pada Danial. Aku mulai mempercayakan segalanya pada Danial. Ku kira tak akan semudah waktu SMA, tapi kali ini aku yakin, hati bisa memilih.......

Aku bahagia. Minggu pertamaku sebagai kekasih Danial.