"Dik...indah banget ya malam ini" ucapku disela keheningan malam itu. Disela-sela tatapan kosong antara Aku dan Dika yang entah menerawang jauh kemana, tepat berdua di balkon rumahku. Lalu di sela-sela rentannya hubunganku dan Dika setelah genap 1 tahun kami melewati ribuan tawa yang menuntun kami. Dika tidak menjawabnya, kemudian Dika memalingkan wajahnya, sepersekian detik menatapku, lalu menundukkan kepalanya dan....tersenyum. Senyum yang berbeda semenjak 3 bulan lalu.
"Dik, We’ll be fine kan?" tanpa menunggu jawaban Dika, aku kembali memulai percakapan, Aku berucap dengan bibir yang bergetar, begitu lirih. Mencoba menangkap arah mata Dika, Aku sulit berkata-kata saat di depan Dika, Aku tak pernah apik menata kata-kata saat berhadapan dengan Dika. tapi saat itu hatiku memacu keingintahuan yang sangat besar tentang laki-laki yang mulai beranjak menjauh dari hidupku, tepatnya semenjak 3 bulan lalu.
Lagi-lagi Dika tidak menjawabnya. Tapi ada yang beda saat itu, ya! MATA DIKA BERAIR!! Seketika dia mencoba menjauhi tatapan mataku. Dia menghindar! Butuh beberapa detik saat Dika berani menatapku untuk kesekian kalinya. Lalu dia terbata "A..ku...aku...aku ingin kita putus Dir." Begitu pelan tapi aku masih bisa menangkap ucapan Dika barusan. DEG!!! Runtuh keyakinan yang selama 3 bulan ini aku pegang bahwa Dika akan kembali baik saja. Ya. Runtuh sudah semua tembok yang aku bangun belakangan ini, tepatnya 3 bulan lalu. Lalu sekejap datang semua pikiran-pikiran negatif yang selama 3 bulan itu aku coba buang jauh-jauh tentang Dika. Tentang Dika yang berubah, Dika yang aku percaya akan kembali, tapi nyatanya? Kenyataannya pahit sampai Dika memutuskan hubunganya dengan ku begitu saja.
Seketika itu juga tetes-tetes air mataku merujuk ingin membasahi pipi. "Ken..kenapa dik ?" dengan bibir yang bergetar dan suara yang parau, aku bertanya pada Dika. "Aku mau pulang dir..." ucap Dika sambil beranjak pergi. Tanpa sedikitpun menatap mataku, tanpa memperdulikan jawabku, tanpa memperdulikan aku setuju atau tidak dengan keputusannya itu, juga tanpa perduli dengan genangan air mata yang mulai tak terbendung lagi, aku hanya bisa menatap punggung laki-laki itu yang semakin menjauh, sampai sosoknya pun menghilang.
Esoknya.....
Pagiku datang kembali. Bedanya pagi ini tanpa Andika, tanpa Dika. Dika yang setiap paginya akan selalu ku kirimi ucapan-ucapan selamat pagi, walau cuma sekedar lewat BBM atau SMS dan tak jarang juga aku membangunkan Dika dengan cara menelfonnya. Rasanya berat sekali kepalaku saat terbangun, berat untuk membawa tubuhku menuju kamar mandi dan bersiap kesekolah. Mungkin yang paling berat adalah ketika tiba disekolah. Aku akan kembali menemui sosok laki-laki yang tadi malam telah menghancurkan harapanku, laki-laki yang telah menggangtungkanku selama 3 bulan dan menegaskan hubungan aku dan dia dengan akhir yg begitu pahit. "Hem sudahlah...." batinku.
1 minggu kemudian...........
Handphoneku berbunyi. Sebenernya aku malas sekali menjangkau Handphone yang tergeletak dikasur tapi akhirnya rasa penasaran mengalahkan malasku. BBM. Dan cuma broadcast. Aku mengabaikannya. Aku membuka recent updates, ada Dika disana. Membuka profile BBM Dika. Aku merindukannya. Sangat!
Ada yang beda disitu, di profile BBM Dika. Berkali-kali aku mengeceknya. Dan benar saja..DEG!! Status BBM Dika telah berubah menjadi.......menjadi ‘Andini’! Untuk kedua kalinya runtuh tubuhku. Runtuh lagi topangan yang baru-saja-akan-berdiri setelah seminggu lalu hancur begitu saja tanpa menyisakan tempat dan sisa untuk aku beridiri. Andini...wanita yang pernah mengisi hati Dika 1 tahun sebelum dia bersamaku. Wanita yang begitu dalamnya Dika sayangi sebelum dia bertemuku. Wanita yang juga begitu dalam meninggalkan bekas dihati Dika, meninggalkan pesonanya dipikiran Dika, meninggalkan beribu kenangan yang sangat berarti. Wanita yang pernah Dika sakiti begitu dalamnya. Sampai sebelum bertemuku, Dika sempat mencoba menarik Andini kepelukannya kembali. Tapi saat itu juga, Dika tahu bahwa andini telah memiliki topangan yang lain..dia juga wanita yang sukses membuat hati ku merasa tak pernah aman. Tak pernah aman untuk aku mencintai Dika. Wanita yang telah beberapa kali dengan tidak langsung mulai menyakiti hatiku. Wanita dewasa yang sangat disukai Dika, tidak sepertiku yang bertingkah kekanak-kanakan. Wanita yang selalu ku anggap lebih dariku dalam hal apapun. Flashback itu mengalir begitu saja, detak jantungku menjadi lebih cepat dari biasanya, tubuhku gemetar diiringi dengan airmata di sudut mataku. Inikah maksud diamnya Dika? Maksud dari 3 bulan yang berbeda? Ini perubahan Dika? Karena..karena perempuan itu kembali.
“HAPPY BIRTHDAY TO YOU! HAPPY BIRTHAY TO YOU! HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY DIRA..........”
Nyanyian nyaring dengan nada tak beraturan itu membangunkanku, aku membuka dan menyadari diriku masih tertidur dibawah lantai kamar. Ada apa ini ? Ah iya, hari tepat tanggal 28 Februari.
Aku mulai beranjak dan mengahampiri teman-temanku, tersenyum kecut. Kemudian aku terdiam, masih terasa sakit yang begitu menusukku. Ya, beberapa jam lalu aku mendapatkan deraan batin yang begitu hebatnya, membuat seluruh badanku kaku hingga membawaku pada lelapnya tidur beberapa jam lalu.
Harusnya..harusnya nyanyian, teman-teman yang malam ini ada disini, serta 17 lilin yang ada di depan mataku akan cukup membuatku tersenyum dengan bahagianya. Nyatanya.......nyatanya aku malah terdiam dan menangis, menangis untuk kesekian kalinya...tangis karena Dika tak disini malam ini. Kamarku kembali sepi, aku kembali duduk di tepi kasur. Lagi-lagi mengarahkan mata pada 1 titik saja dengan pikiran kosong. Kemudian untuk kali yang keberapa aku kembali meneteskan airmata.
“..........dik aku pengen banget waktu aku umur 17 tahun kamu kerumah aku tepat jam 12 malem, terus kamu masuk kamar aku, nutup mata aku waktu aku lagi tidur terus....kamu nyium kening aku. Ehhh pas aku bangun aku ngeliat kamu bawa kue terus ngasih senyuman yang indah banget buat aku hehehehehee.......” Dika mengelus-elus manja kepalaku, dia mengarahkan tangannya dan menarikku lembut, menyandarkan kepalaku pada bahunya. “Aku pasti wujudin itu semua dir....pasti.” katanya mantap. “ihhhh itu belum semua, Dikaaaaaaaaaaaa" rengekku manja. "Ohya? Apalagi sayang?” Tanya Dika begitu antusiasnya. "Aku tau mungkin ini akan terdengar bodoh dan konyol sama kamu Dik, tapi aku ingin....melihat 17 balon berwarna warni di udara, aku ingin....hem aku mau ke pantai. Aku mau lepasin 1017 kapal kertas yang selama ini udah aku bikin.. Lalu mereka terbawa ombak dan hilang di lautan lepas. Dan kita berdua sama-sama melihat ribuan kapal kertas itu hilang dari penglihatan kita"
3 bulan lalu semua kata-kata itu masih terekam jelas di memoriku, saat aku dan Dika duduk bersama dengan hangatnya. Memberitahu impian-impian kecilku bersama Dika untuk hari ini. Ya, untuk 28 februari yang selama ini aku terka bisa bersama Dika seharian. Tapi mimpi itu cuma hanya sekedar lewat di memori yang akan terus menerus terekam olehku. Sekejap flashback itu cukup merogoh bongkahan hatiku. Aku membuyarkan lamunanku, tersadar. Kemudian terbesit senyum dibibirku. Aku.......merindukan laki-laki itu. Merindukan hangat senyumnya untukku, senyum yang mampu menularkan senyum juga di bibirku.
Aku mengeluarkan mobil dan membawa 1017 perahu kertasku, memasukkannya ke mobil dan melajukan mobilku ke arah pantai. Sampai. Menenteng 1017 perahu kertasku ke ujung pantai, sedikit-sedikit perahu kertas itu aku keluarkan dari kotak yang menampungnya, melaju mengikuti arah ombak yang akan membawanya entah kemana....sampai detik ini pun aku tak pernah tahu kenapa harus 1017 perahu kertas yang aku buat, aku tak pernah punya alasan untuk itu. Aku mendudukan diri diatas pasir putih pantai, memejamkan mata sekejap, lalu membuka mataku kembali dan mendongakkan kepala ke arah matahari yang terus memacu teriknya ke bumi dengan gagahnya. Pandanganku sekejap terampas oleh sekumpulan balon berwarna-warni diatas langit biru itu. Tak jelas jumlahnya memang, tapi aku begitu terenyuh. Dan..................... Dika!!!!!! Pikirku. Lalu balon itu hilang terbawa angin, aku menundukkan kepalaku kembali, senyum sinis menggantung dibibirku. Habis sudah tangisku, habis sudah harapku, dan hadirnya balon-balon itu lengkap menjatuhkanku sedalam-dalamnya. Rasa sakit hati yang membahanaku begitu menyiksa. Menghancurkan titik-titik tumpuan yang selama ini menopangku. Begitu mirisnya. Persetan dengan Dika!!!! Aku beranjak dari dudukku, berjalan menuju warung-warung kecil dipinggir pantai, membeli 1 bungkus rokok serta korek api. Aku duduk disisi-sisi warung itu, mulai memasukan 1 batang rokok ke mulutku. Membakarnya dan menghisapnya dalam. Untuk pertama kalinya. Aku merokok. Rokok yang selama ini tak pernah terpikir akan aku jajaki sebagai tumpuan segala permasalahanku, kini telah hadir di hidup ku, sefrustasi itu aku? Sejatuh itukah aku? Aku menghisap beberapa puntung rokok, dalam. Ya! sangat dalam aku menghisapnya. Merasakan dadaku yang mulai sesak....serta batuk-batuk tak bisa aku hindari. Tapi aku tetap kekeh menghisapnya. Sampai ketenangan yang selama ini aku rindukanpun kembali aku dapatkan, tanpa memikirkan dengan cara apa dia hadir lagi dihidupku.
Handphoneku berdering, bertubi- tubi dering yang menandakan SMS masuk di handphoneku. Aku membukanya, ada 17 SMS yang masuk di inbox handphoneku, dengan nomer tak dikenal. Mungkin orang iseng? Tapi....kenapa bisa tepat 17 SMS dihari kelahiranku yang ke-17? Dika kah? Tak mungkin, batinku. Tapi balon berwarna-warni itu juga tak jelas dari siapa, Aku tak berharap Dika yang melakukan itu semua. Ya,tidak sama sekali.
3 bulan kemudian...
Sampai Bulan keberapa aku menunggu, menunggu janji Andika yang dia sampaikan saat kami masih semanis madu yang baru disuling, tapi itu tak kunjung menghampiriku. Ya, aku tahu. Janji hanya cuma janji yang terucap lewat mulut saja. Tak terjadi pun tak masalah untuk sebagian orang, contohnya Dika. Aku memejamkan mata, menidurkan kepalaku di atas bantal kamarku. Beberapa bulan ini kuhabiskan dengan kelabunya, terbuang begitu saja. Menyiksaku, sangat.
Rindu yang menusuk kian lamanya, terlebih aku sangat merindukan senyum Andika yang mampu menularkannya padaku. Sedang apa dia? Aku tersenyum kecut memikirkannya. Tetes airmata diujung mata kecilku hadir. Rasanya rongga dadaku begitu menganga karena lubang yang begitu dalamnya telah terjorok disana. Lagi dan lagi, berapa tetes airmata yang aku hujatkan untuknya. Laki-laki sederhana dengan senyum yang sukses membuat jantungku berdegup lebih cepat saat di dekatnya. Ya, tak pernah ada alasan yang mampu mengubah itu sampai detik ini, tak pernah ada secuil benci yang hadir diantara aku untuk Andika, sedikitpun tidak ada. “Ka ada yang nyari” Ucap fika, adikku. Membuyarkan lamunanku. “Siapa?” Tanyaku padanya. “Enggak tahu” Fika meloyor pergi begitu saja, aku bergegas menuruni tangga dan menemui orang itu. Laki-laki putih, bertubuh tinggi berdiri di ruang tamu rumahku. Dia berdiri membelakangi dari arah aku berjalan menghampirinya. “Heumm” sapaku. Dia berbalik dan tersenyum padaku. Denis????? Laki-laki yang 3 tahun lalu pindah ke Semarang, kami berteman sejak masih Taman Kanak-kanak dulu, sampai suatu hari Denis harus pindah mengikuti orang tuanya. Ya, Aku tahu aku dan Denis sama-sama mempunyai rasa yang lebih, bukan hanya sebagai sahabat kecil. Aku mAsih ingat sekali dengan perkataan Denis bahwa dia menyayangiku bukan hanya sebagai temannya, tapi lebih dari itu. Sampai suatu ketika Denis berpacaran dengan teman sebangku ku dan aku sangat kecewa padanya. Tapi Denis ya Denis dia tetap memberikan seluruh perhatiannya padaku, hanya untukku. Dan dia, dia saat ini di depanku dengan mata yang masih sama seperti dulu, mata sayu yang membuatku selalu luluh akannya. “hey babi!” sapa Denis padaku. Ah, panggilan sayang Denis padaku dari dulu, aku begitu merindukannya. Aku menghambur memeluk Denis, Denis menyambut pelukanku. Masih hangat seperti dulu. Sampai-sampai aku betah berlama-lama memeluknya. “babi aku sayang kamu” bisik Denis tiba-tiba di telingaku, aku mengendurkan pelukanku, menarik tubuhku sedikit menjauh dari Denis. Desiran aneh muncul seketika di tubuhku, jantungku berdetak lebih cepat. “Dens? “tanyaku ragu padanya. “Heumm” Denis menatap mataku, dekat sekali. Ah..mata sayunya begitu mampu membuatku tak berkedip saat itu. Wajah yang dulu sempat aku rindukan, sebelum akhirnya tergantikan oleh Dika....kian lama semakin mendekat. Hembus nafasnya mampu aku rasakan disekujur tubuhku, sampai akhirnya bibirnya yang lembut menyentuh bibirku. Aku ingin merontak, tapi tubuhku mengkaku dipelukannya dan membiarkan bibirnya yang basah melumat bibirku lebih dalam.
-Aulia Masita -