Senin, 18 Januari 2016

Ku kira aku bisa sekuat beton penyangga tiang.


Malam pertengahan bulan Januari. Perlahan-lahan kesepian merobek-robek asa. Mewakili setiap detik yang terpojokkan. Menghina rindu yang terwakili gengsi, atau memuji kebebasan yang memberi sekat kalimat putus.


Minggu, 17 Januari 2016

Kopi pertama di Januari. 

Ini Januari kedua, setelah aku yakini, tahun baru bukan sebuah berkah untukku. 

"Bisa ku lewati ribuan Januari dengan orang yang sama?"
Pertanyaan yang akhirnya aku yakini untuk Tuhan jawab.

Pagi ini, hanya hati kosong yang hadir, ditemani segelas kopi yang ampasnya mulai terasa manis---bagiku. Tidak ada sejengkal sedih atau segumpal sesal. Semua terlalu naif, saat 2 orang mulai menarik diri dari suatu ikatan. Berpura-pura sakit hati sampai mata sembab terlihat esok paginya. Dan beberapa jam kemudian ia bisa saja mencumbu orang lain dengan mata tertutup. 

'Bisa ku temukan jodohku lebih awal?'
Pertanyaan tolol yang aku selipkan di sujudku, akhirnya.