Assalammu’alaikum, Bapak Dahlan Iskan.
Aku Aulia Masita, pelajar kelas 12 SMA dan belum mengerti apa itu hidup
sebenar-benarnya.
Entahlah pak, saat aku mememutuskan untuk menulis ini, aku bimbang apa yang
harus ku ketik di selembar microsoft word ini. Ku rasa terlalu sedikit, ketika
aku harus membahas kesan dan inspirasi apa yang bisa ku ambil darimu.
Sebelumnya, aku belum tahu siapa kau ‘dulu’. Sejujurnya, aku jarang sekali menonton
TV , terlebih melihat acara berita-berita yang membuat ku miris setiap harinya,
lalu menanggalkan Negeri ini yang sedang menjerit dan bermain kembali layaknya
remaja lainnya.
Di mulai dari membaca buku tentang ‘Surat Dahlan’. Entahlah, ada magis apa
di buku itu. Aku begitu tertarik serta diselimuti perasaan bodoh karena telah
mengabaikan jeritan Negeri ini. Aku begitu hanyut di dalamnya, masa kecilmu
yang begitu berbeda denganku sekarang, harusnya aku bisa lebih menghargai hidup
ini.
Pak, kalau ditanya apa yang membuatku terinspirasi darimu? Aku akan jawab
‘sepenuh harapan’. Iya, aku petik kata-kata tersebut dari novel ‘Surat Dahlan’.
Sepenuh harapan kau memperjuangkan semuanya, apa yang semestinya lurus, ‘harus
lurus’. Sesederhana itulah kau memikat masyarakat dengan kesederhanaanmu.
Mengenal kisahmu, membuatku berkobar menggapai cita-cita dan ku harap Tuhan
menjabahnya.
Aku hanya ingin menyampaikan kesan ku kali ini. Kesan terhadap laki-laki
yang telah memikat masyarakat Negeri ini. Aku bertanya-tanya “mengapa kau tak
ingin memimpin Negeri ini?” dan sesaat setelahnya, aku menjawab sendiri “mungkin
kau punya rencana sederhana lain, tentu selain menjadi pemimpin Negeri ini”.
Pak, seperti yang ku bilang tadi, 1 halaman microsoft word tak akan mampu
mengurai satu per satu perkataanku. Maaf kalau ada perkataanku yang tak berkenan.
Kalau kau sungguh membaca suratku, aku akan sangat berterimakasih pada ajang
lomba menulis yang diadakan NouraBooks ini, karena secara tak langsung aku
telah berbicarapadamu. Doaku selalu menyertaimu, bapak Dahlan Iskan.
Wassalamu’alaikum.
-Aulia Masita-