Minggu, 24 Agustus 2014

Demi dewi malam yang pergi. Aku terduduk bersama gelap dan lara. Berkedok malaikat dan tersenyum manja. Mataku mulai berair-mungkin karena sudah larut. Jangan paksa aku mendengak bergelas-gelas kopi lagi. Mati muda bukan jalanku, Tuan!

Kelak kita sudah muak dengan debat bodoh sang waktu. Di tertawakan masalalu seakan tak mau belajar. Di hujati emosi tanpa pernah sadar kita mulai terluka. Tanpa sadar mulai terbukanya-kamu-aku-untuk saling mencari. Miris.

Pemberhentian terakhir adalah jalan yang perlahan aku mulai cari. Begitu juga kamu ?
***


***


***


***


***


Dan kehilangan perlahan pula menarik-narik kita.







Kamis, 21 Agustus 2014

Karena waktu, saya kembali kesini, kerumah tua yang telah lama tidak saya jamah. Saya seperti mereka, hanya datang saat saya butuh pada kamu. Kali ini, dengan ia yang berbeda.

Ada waktu yang sakit saat ini.
Saya tidak ingin menyesal. Tapi saat saya perbaiki, kenapa kamu mulai menghadapkan tamengmu ke arahku.
Saya ingin lari, jauh-jauh meninggalkan, menguburnya sampai nanah permukaan bumi menghisapnya.
Saya ingin lari.
Saya ingin lari.
Sebab kerangka kepala saya mendadak ingin sekali saya pecahkan. 
Sebab kamu, ia kamu, adalah roda yang berjalan semakin cepat, untuk aku jatuh perlahan, dan membutakan segalanya.

Batu besiku takkan bisa di pecahkan hanya dengan egoisme. Batu besiku adalah candu saat ia mengenakan tempurung kejayaannya-aku tersiksa.

Di dalam sini terus menerus memberontak.
Aku ingin lepas.
Aku jenuh.
Kembali-aku tersiksa.



Dear, 

Waktu takkan bisa merubah kita.
tapi ia bisa membalikkannya.
aku adalah aku.
kamu menjadi aku.