Minggu, 29 April 2012

Kesempurnaan Semu (2010)


          Entah dari mana dan kapan semua ini terjadi? Tapi aku begitu menikmati buaian mimpi yang mengalir begitu saja dalam pikiran ini. Seolah-olah tak pernah habis untuk membuat karangan yang begitu saja terucap dari lisanku.

          “Eh lihat kalung baruku, ini dari mamaku”  Ujarku sambil memperlihatkan kalung yang tergantung apik dileherku.
          “Wahh bagus banget kalungnya. Ohiya, enak sekali ya jadi kamu, apa yang kamu inginkan selalu ada dan mamamu itu ya... perhatian sekali”  Iri salah seorang sahabatku, Dira.
         “Ah, kamu bisa saja, mamaku memang sempurna. Bahkan sempurna sekali”  Banggaku sekali lagi pada sahabat-sahabatku.
         “Iya Al ,bahkan kami semua iri sekali padamu”  Timpal Karra.
         “Hehe bisa saja kalian, Oh iya nanti pulang sekolah temani aku beli kado ya untuk mamaku. Besok dia ulang tahun, mau kan?”  Ajakku pada ketiga sahabatku.
         “Hem okedeh untuk sahabat kita dan mamanya yang paling sempurna”  Jawab Shera menerima ajakan ku.

          Sepulang sekolah kami berempat meninggalkan sekolah dan menuju Mall paling terdekat. Aku entah harus apa? senang atau bagaimanakah seharusnya aku?

          “Al, kamu mau beli apa? lihat deh ada kalung yang cantik sekali untuk mamamu. Ssepertinya akan pas dan cocok untuk seorang ibu yang kamu banggakan selalu”  Tanya Karra padaku.
         “Wahh kamu pintar sekali Kar, aku sangat suka dengan kalung ini”  Kataku sambil melihat kalung itu.
         “Hm tapi harganya lumayan mahal loh Al”  Ujar Shera yang melihat sambil melihat kalung itu kalung itu.
         “Ah ga masalah lah, untuk mamaku apa sH yang enggak” Sombongku pada mereka.
         “Hm okel deh Al”  Jawab mereka semua.

          Dira yang mendengar ucapanku sedikit kesal, entah mereka mau bilang aku seperti apa, tapi aku selalu nyaman jika aku menjadi aku yang seperti ini.

         Keesokan harinya...
         Ketiga sahabatku ternyata menyiapkan sesuatu untuk mamaku. Mereka bahkan belum pernah melihat dan mengobrol dengan mamaku. Tapi mereka begitu hangat dengan hidupku. Mereka care dan sangat mengagumi mamaku. Cerita-ceritaku tentang seorang ibu yang begitu akrabnya dengan seorang anak itu yang membuat mereka begitu hangatnya denganku. Sepulang sekolah, aku pamit pada mereka. Aku seperti orang yang bersemangat untuk pulang kerumah.
         Ya. Hari ini tanggal 22 Desember, benar mamaku berulang tahun dan ku bilang pada sahabatku hadiahnya sudah ku berikan pada mamaku lalu mamaku berkata “Terima kasih sayang, mama senang sekali” Sambil mengecup keningku dan memelukku.
Dira, Karra dan Shera begitu kagum dengan ceritaku tadi. Mereka bergegas menyusun rencana untuk kedatangannya kerumahku.
          Sore itu, mereka membawa kue bertuliskan “Happy Birthday Mamanya Aliya”. Mereka tiba dirumahku saat aku sedang mandi. Bell rumah berbunyi dan seorang perempuan keluar untuk membukakan pintu rumah.

          “Assalamualaikum benar ini rumahnya Aliya?”  Tanya Dira pada perempuan yang sudah berumur itu.
          “Iya benar non benar, ini temannya non Aliya ya?”  Jawab perempuan itu. Dia adalah pembantu keluarga Aliya.
          “Iya kami temannya Aliya, Aliya nya ada bi? ” Ucap Shera.
          “Ada non. Tapi sedang mandi, non langsung saja ke kamarnya non Aliya di lantai 2 ya”  Unjuk bibi pada meraka bertiga.
          “Iya terimakasih ya bi”  Ucap mereka bertiga dan sambil berjalan menuju ke lantai 2.

           Mereka bertiga melihat-lihat sekekeling rumah Aliya, sambil berjalan menuju kamar Aliya. Rumah bergaya klasik itu terlihat sedikit aneh, tidak ada satupun foto keluarga yang terpajang di dinding-dinding rumah itu. Jauh berbeda dengan kehangatan yang diceritakan Aliya pada teman-temannya. 
            Mereka bertiga sampai pada kamar yang dimaksudkan oleh si bibi. Di depan pintunya terdapat tulisan “ALIYA”. Ya, itu memang kamar Aliya. Mereka mulai membuka kamar itu dan seketika itu juga mereka kaget melihat kamar Aliya yang sangat kontras berbeda dengan keadaan Aliya. Aliya yang rapih, ceria dan rajin. Di dalam kamarnya terlihat buku-buku yang berserakan, tempat tidur yang berantakan, kertas-kertas remasan yang bergeletak begitu saja dilantai dan sebuah kotak besar. Mereka bertiga terngangah melihat semua itu. Mereka mulai melihat-lihat kamar Aliya. Dira yang saat itu begitu penasaran dengan kotak besar itu, segera membuka kotak itu. Ia terperangah melihat isi kotak itu.

            “Eh lihat Kar, Sher ini bukannya kotak kalung yang Aliya ingin kasih ke mamanya?” Ujar Dira sambil membuka kotak kalung itu.
            “Ha? bukannya Aliya bilang udah dikasih ke mamanya ya? kalian inget kan tadi pagi dia bilang gitu ke kita?” Timpal Shera.
            “Eh eh coba ini masih ada yang lain, ini semua hadiah-hadiah. Tapi untuk siapa? untuk apa semua ini dan kenapa tidak pernah diberikan?” Ucap Karra yang bingung melihat hal tersebut.

             Mereka bertanya-tanya dan terus melihat-lihat barang-barang itu,mereka membaca satu persatu kartu ucapan yang tertera pada kado tersebut.


TAHUN 2007
Happy birthday ma!aku punya hadiah buat mama, semoga mama senang ya.
Ini tahun pertama ulang tahun mama tanpa bertemu aku? aku tidak pernah tau alasan kalian kenapa harus berpisah!
Tapi sungguh ini berat untukku, papa sibuk dengan urusannya dan aku sendiri disini. Tanpa tahu apa yang aku lakukan dengan hadiah ini. Sekarang? sekarang mama tau aku menjadi seorang anak yang biasa disebut BROKEN HOME!

TAHUN 2008
Happy birthday ma! aku punya hadiah lagi untuk mama seperti tahun lalu, dan aku harap mama selalu senang.
Ini tahun kedua mama berulang tahun tanpa aku, semenjak hari dimana mama pergi meninggalkan aku dan papa. Serta memberikan talak dan terjadi perceraian itu, lalu aku memohon-mohon untuk mama tidak meninggalkan aku, tidak pergi untuk sebuah keegoisan yang ada pada diri mama.
Ma? mama tau? aku mulai iri dengan teman-temanku, mereka punya mama. Punya seorang yang akan selalu ada jika mereka lelah. Tapi aku? aku bahkan tidak mengerti mama meninggalkanku kami karena apa.

Tahun 2009
Happy birthday ma! lagi-lagi aku punya hadiah untuk mama. Aku tidak pernah tahu alasan aku membeli semua hadiah ini, lalu hanya aku simpan di kotak favoritku. Sampai bibi pun tidak pernah berani menyentuh kotak itu ma.
Ohya ma, ini tahun ketiga sudah. Ma, saat ini aku mulai menjadi diriku yang lain! aku mulai berbohong dengan mereka semua! aku berpura-pura sempurna! bahkan sangat sempurna di depan mereka tentang mama, tentang hidupku!

Tahun 2010
Happy birthday ma! lagi dan lagi seperti ini terus. Bersembunyi dibalik kesedihanku, dibalik kebohonganku tentang mama. Kadang aku berpikir untuk mencarimu, ma.
Ini tahun keempat sudah. Ma, kali ini aku membeli hadiah ini dengan sahabatku. Kami mencari hadiah ini bersama. Mereka bilang mama sempurna, mama ibu terbaik sedunia. Tapi sayang itu hanya karangan belaka, ma.
Nyatanya aku terlalu sakit hati untuk seorang ibu yang 4 tahun lalu meninggalkanku tanpa perduli rengekanku, tanpa peduli aku mengejar nya hingga tubuhku terjatuh dan lututku terluka karenanya. Dan aku hanya dibesarkan oleh angan dan mimpi-mimpiku, kemudian aku merasakan rasa kecemburuan terhadap mereka yang begitu hangatnya bersama ibunya, aku berpura-pura menjadi salah seorang yang sempurna diantara mereka!
Aku benci padamu! aku benci mengakuimu sebagai seorang yang sempurna, tapi entah kenapa aku terus merindukan hangatmu.



          Setelah mereka bertiga membaca kartu ucapan itu, seketika Aliya datang.
          Krek…suara pintu terdengar terbuka.
          Aku membuka pintu kamarku, aku melihat sahabat-sahabat ku berdiri di depan kotak ku. Aku melihat mereka sedang membongkar dan membaca kartu ucapanku. Entah apa yang kurasakan? rasanya ingin aku menghilang saat itu juga, ingin aku membunuh mereka semua saat itu juga! dan melakukan apa saja agar mereka tidak akan mengingat apa yang mereka baca dan lihat di dalam kotakku. Tapi semua itu tidak mungkin. Akhirnya keluar semua yang selama ini aku tutupi. Lekat-lekat ku tatap mereka satu persatu dan dari mereka satupun tidak ada yang berbalas menatapku. Seketika itu juga aku mulai merasa sekujur tubuhku dingin sampai akhirnya sebuah kata-kata tanpa ragu ku lepaskan pada sahabat-sahabatku.

          “KALIAN SEDANG APA DISANA? SEDANG APA BERDIRI DISINA?” Kataku sambil menatap mereka, mataku pun mulai panas dan seluruh amarahku mulai naik.
           Mereka hanya diam, diam tanpa menjawab sebuah pertanyaanku. Yang berarti apa yang aku lihat saat membuka pintu itulah benar dan nyata. Lalu tanpa ragu lagi-lagi aku berteriak .

          “IYA! PUAS KALIAN? AKU HANYALAH PEMBOHONG! PEMBUAL ! AKU BROKEN HOME! MAMA YANG SELAMA INI AKU CERITAKAN TIDAK PERNAH ADA! AKU CUMA SEORANG ANAK YANG DITINGGAL PERGI OLEH IBUNYA KARENA SEBUAH ALASAN YANG ENTAH AKU TIDAK TAHU APA ITU!” Aku mulai meneteskan air mata, aku berteriak sekeras-kerasnya saat itu. AKU YANG SEPERTI ORANG BODOH MENYIMPAN SEMUA HADIAH UNTUK MAMAKU DAN SEPERTI ORANG GILA YANG YANG SANGAT BUTUH KASIH SAYANG! ITU AKU? KALIAN TAHU KENAPA TIDAK PERNAH AKU MENGAJAK KALIAN KERUMAHKU? KARENA TIDAK ADA IBU YANG MENYAMBUTKU SAAT PULANG KERUMAH SEPERTI KALIAN! TIDAK ADA IBU YANG MEMBELIKAN AKU KALUNG INDAH YANG AKU PAKAI SAAT INI? KARENA TIDAK ADA FOTO-FOTO KELUARGA YANG TERPAJANG DI DINDING-DINDING RUMAHKU SEPERTI KALIAN! AKU IRI PADA KALIAN! KARENA ITU AKU MEMBUAL SEMUA ITU, KARENA ITU AKU BERBUAT SEPERTI ITU! PAPAKU SIBUK, AKU TIDAK PUNYA SAUDARA! HANYA KALIAN YANG AKU PUNYA! DAN AKU TIDAK INGIN KALIAN IKUT PERGI MENINGGALKAN AKU SEPERTI IBUKU. TOLONG TERUS ADA DISINI, DISAMPINGKU. TERUS ADA DAN DUKUNG AKU MENJADI DIRIKU SENDIRI DAN MAAFKAN AKU” Ujarku sambil menagis dihadapan sahabatku. Aku menunduk dan aku mulai merasakan tubuhku tidak mampu menahan semua ini.

          “AL, KITA ITU SAHABAT! AKU GA PERDULI MAU KAMU GIMANA? KAYA APA? AKU TIDAK PERDULI MAU KAMU BROKEN HOME ATAU APA SAJA AL! KAMI PASTI DUKUNG KAMU! KAMI PASTI SELALU BERSEDIA MELUK KAMU SAAT KAMU BUTUH PELUKAN KAMI, KAMI PASTI ADA UNTUK KAMU" Ujar Shera tak kalah lantang denganku.

          Aku entah harus apa? kenapa mereka begitu baiknya terhadapku. Mereka tidak seperti fikiranku yang bilang bahwa mereka akan meninggalkanku, seperti ibuku saat itu. Tapi tidak! lihat mereka? mereka ada disampingku, sambil memeluk ku erat sekali. Mendekap dengan rasa hangat yang beberapa tahun ini tidak pernah aku temui di kehidupanku. Mungkin selama ini aku terlalu egois untuk memendam kesedihanku, sakit hatiku dan rasa kesepianku sendirian. Bahkan seorang yang kesebut papa dan tidak jarang ku harapkan akan bisa berperan sebagai ibu juga, tidak pernah kutemui dalam setiap harinya. Entah sejak kapan papa selalu mencari kesibukan yang menggila itu. Ingin rasanya aku berkata pada laki-laki itu “B ukan hanya kau yang terpuruk pa?aku disini juga, mama pergi. Apa kau jg perlahan-lahan akan pergi? aku mengerti perasaanmu ,aku tahu pa! rasa di khianati yang begitu menusuk dihatimu. Tapi kau masih punya aku? aku bukan anak kecil lagi, bukan cuma seorang anak yang begitu saja menerima alasanmu dengan perceraian itu. Tapi sudahlah….aku bisa terima itu”
Perlahan-lahan aku menutup semua kenangan pahit itu, aku mulai jadi diriku. Aku bisa terima semua keadaanku, aku terima keluargaku seperti ini. Ternyata bukanlah sebuah kesempurnaan yang selalu indah melainkan sebuah kejujuran yang akan memberi sebuah kesempurnaan.




Aulia Masita 
(2010)

Surat @nulisbuku


Untukmu, yang telah memudar.
         Beberapa bulan lalu kau masih pancarkan terikmu ke hembus nafasku. Begitu kuatnya, sampai-sampai aku tak mampu mengkontrol gebu-gebu yang kutanggung, yang sering mereka sebut “Cinta”. Ya. Aku mencintaimu, dengan ruang yang lapang dan putihnya perasaan ini. Kemudian aku menjejaki lorong-lorong hidupmu. Sampai ketika diakhir lorong, aku menemukan sebuah pintu gelap. Sebut saja, masa lalumu.
         Aku ingin begitu saja melewati pintu itu, aku tak pernah mau masuk kedalamnya, sejujurnya. Entah hatiku meraung menggoda untuk aku berbelok kedalamnya. Benar saja, remuk redam bentengku. Kalian bercumbu disaat aku mulai mem-per-ta-hankan, ini “Cinta”....untukmu. Entahlah...aku rasa, aku tak bermimpi atau aku yang salah memasuki lorong yang telah ditempati oleh dia. Harusnya aku tak masuk, karena tak ada tempat lagi untuk pengemis harap sepertiku.
         Aku gila, gila dengan sakit hati yang begitu memilukan ini. Aku jatuh, jatuh dengan sejuta harapan yang telah ku buat untuk kita. Aku rapuh, rapuh dengan angan yang kian membelengguku dengan manis buaian mesramu, yang dulu kau hadirkan ditengah-tengah kita. Sayang aku bukan satu-satunya yang berada di lorongmu.
         Bodoh! aku masih menunggu. Tapi entahlah siluetmu kian lama memudar, terhapus ombak yang menerjang pasir pantai lalu hilang. Lenyap. Untuk apa lalu? untuk jiwaku yang belum puas menyadarkan kau dengan segala egoismu.
Untukmu, yang telah memudar. Rinduku mulai bergejolak, menjadi sayatan luka karena menanti kau yang jelas-jelas tak menoleh.
Untukmu, yang telah memudar. Aku menunggu. Dengan seenggok tubuh yang masih sama seperti dulu. Yaitu, mencintaimu.


Dariku,yang terlupakan.