Jumat, 24 Januari 2014

My Dealova

Apa kabar kamu dealovaku?
Apa kabar kamu yang memeluk rindu bulan lain?
Apa ada yang ingin kamu beritahu, sebelum aku tahu, kamu adalah kumpulan janji yang tak akan di genapkan. Kumpulan janji yang ku pegang atas nama kepercayaan. Kumpulan janji yang diterima oleh telingaku dari bibirmu. Kumpulan janji yang hanya melayang-layang di udara tanpa pernah kamu tangkap. Kumpulan janji yang aku tahu akan seperti ini...kecewa.

Apa lagi yang kamu sembunyikan, sayang?
Semua seperti mengasingkan bagiku. Aku terpojokan mengertimu atau menyalahkanmu. Tameng apa lagi yang akan kamu kenakan. Aku sudah hapal kemana kamu mengacu, sudah hapal kamu harus belok ke kanan atau ke kiri, bahkan lurus. Tapi masih saja sama, aku belum mengerti, Tuhan.

Kalau kamu baca sekian lembar post ini, aku hanya ingin kamu tahu, sesakit apa di tinggalkan untuk segalanya yang kamu  terbangkan, dan kemudian jatuh begitu saja. Tanpa ada kerusakan atau alasan. Kamu lepas kendalinya, kamu buang jauh, dengan aku yang masih belum jelas akan jatuh di tempat seperti apa-atau mati. 

Kalau kamu baca post ini, aku ingin kamu tahu, hidup tak sesulit mengerjakan matematika ekonomi di kelas perkualihan kita. Hidup hanya perlu kamu dekatkan dengan kebahagiaan, sama seperti 3 bulanku kemarin, dealova.

Boleh aku bersujud lama sekali agar Tuhan menjabah doaku? aku harap ini mimpi.
Apa aku harus berdoa dengan lantang agar doaku tak terselip mereka-mereka di dunia.
Bisa ku rapatkan kedua tanganku erat-erat, agar pemberian Tuhan atas doaku tak lari.

Sayang, kamu selalu bilang "pacarku gak manja", apa ini cara kamu mengujiku? 

Kamu selalu bilang aku kuat, apa ini cara kamu mengujiku?

Kamu selalu bilang aku baik, apa ini cara kamu lagi-lagi mengujiku?

Bagaimana nilaiku?..........aku harap ini mimpi.




Minggu, 19 Januari 2014

Cinta tak lebih polos dari kamu

Cinta tak melulu atas rindu
Di setiap kata yang kamu gaungkan di sela pelukan
Pikiranku terbang
Kamu bisa cumbui aku sampai mati

Kamu tahu aku percaya,
atau ada senyum bertameng pedang yang akan kamu tusukkan?

Cinta baru saja berjalan
Baru mulai keluar dari kepolosan rumahnya
Dari hangat mantannya

Ku kira aku terbebas luka
Karena kamu memujaku hingga aku muak
Semuak itu pula aku meninggi dan menanti
Mengganja,

Cinta baru sejengkal aku raba
1 minggu untuk aku percaya
selebihnya....kamu masih lebih polos.

Dan kamu lari,
Memanfaatkan waktu 1 semester
Apa yang kamu raih atas nama cinta?
Nilai?
Uang?
Berhasil menang dengan kawanmu?

Cinta tak melulu atas nama tulus
Maafkan cinta yang perihnya memangsa pikiran
menggeragoti waktu
mengelopeki kulit ari terluar hingga daging merah segar menampak
menguras air mata yang di-tolol-tolol-kan
hingga berpikir untuk lompat dari gedung lantai 9 agar cinta mengibanya.

Sabtu, 11 Januari 2014

Demi jiwa yang sakit, untuk kembali ke dalam tulisan. Ku kira kamu seabadinya lovestory yang pernah ku baca. Ku kira kamu adalah bangunan kepercayaan lagi. Kamu.....kamu adalah hal yang tepat, pilihan yang aku raih di dermaga sepi dan gelap. Lalu kenapa aku kembali kesini. Seharusnya kamu bisa tahu. Aku mulai meragukan kembali semuanya. Aku mulai tidur bersama fajar yang mulai terbit. Mulai memutar otak bagaimana amnesia bisa tiba-tiba saja ada di tubuhku. Bagaimana kontraksi berpikir terlalu keras tidak akan berpengaruh lagi pada tubuhku.

Sekarang bisa kamu tebak perasaanku? dan jawabanku akan selalu tidak. Kamu hal terjauh yang ku kira akan bisa menebak perasaanku. Senang. Sedih. Bosan. Sayang. Bahkan, cinta. Walau secara jelas aku ada di depanmu dengan mata berair. Dan kamu akan tetap bertanya 'kenapa'.

Menulis adalah kisaran langkah terjauhku akan gelap, tentu selain meminum gelasan kopi perhari.