Jauh-jauh aku melupakan, tapi bagaimana bisa aku dihadapkan dengan sebuah pilihan yang begitu membelakangi satu sama lain.
Jauh-jauh aku berlari, tapi bagaimana bisa aku tertimpa runtuhan kelam kembali.
Kamu tahu, aku bercerita dengan iringan lagu. Sampai detik ini, aku tidak pula tahu, bagaimana sebuah lagu bisa begitu menyindirku sedalam ini. Bisa sampai menerjunkan beberapa tetes air mata yang entah karena apa dan kemudian ada segelintir kehangatan yang lewat, menembus rongga-rongga dadaku.
Aku me-replay berkali-kali lagu ini. Entah untuk apalagi, barangkali kamu sudah muak denganku. Tapi aku tak pula lupa akan janji yang begitu dinginnya sampai ke hatiku-janjimu. Aku tak akan lupa bagaimana kamu berjanji pula akan menggenapkan itu padaku.
Bagaimana bisa kamu cinta-melepaskan?
Dan aku terlalu dini untuk berkata kamu-cinta. Aku adalah asa masalalu yang kebetulan hadir di depan matamu. Aku adalah sisa bayang masalalumu yang kamu tuduhkan mirip denganku. Dan lagi-lagi aku menilai terlalu dini, untuk kamu menyayangiku.
Lalu saat kamu tahu aku ada, kemana tatapanmu?
Segala-galanya benci adalah aku yang kamu hindarkan. Yang kamu paksa jauhkan. Aku tak bisa menilai bagaimana perasaan begitu sulit untuk kita. Aku tak memilihmu. Aku juga tak pula menjauhkanmu.
Dan kamu membunuhku dari tatapanmu, ketika aku menatapmu. Ketika aku sengaja mencari-apakah aku masih ada, dalam sepasang matamu.
Jika kamu memaksaku, aku akan memelukmu, kemarin.
Mereka berkata, aku adalah usaha-usaha yang dihadirkan. Sejak saat itu, kamu diam. Entahlah aku tak mengerti apa maksudnya, aku hanya hanyut menilai-siapa yang mengusahakanku. Maaf kalau cinta begitu ku persulit. Sebab kecewa akan hadir, aku memilih untuk merantai hati.
Dan kini aku dipeluknya.
Apa yang kamu nilai?
Apa yang kamu pikirkan, kalau masih banyak wanita lainnya, katamu.