Kamis, 25 Oktober 2012

UMT POEMS DAY

    Alhamdulillah ini puisi pertama yang berhasil meraih juara 2 di Universitas Muhammadiyah Tangerang. Puisi dibuat pada saat acara dimulai, tema juga diberitahu saat acara akan dimulai. Puisi ini bertemakan Bahasa dan Budaya.

Kami akan Menggenapkan Janji

Hembuskan napas-napas kau disini---di negerimu
Dulu kau ingat?
Ah, tidak. Kau hanya mendengar
memperkuat indera pendengaran 
lalu utopis perlahan menghampiri


Dimulai dari 17 Agustus 1945
Jati diri mulai menyeruak ingin di daulat


Kami Indonesia! 
Berbahasa satu, bahasa Indonesia
Kami Indonesia!
Budaya bagai air putih teman minum obat, kau.


Dimulai dari 17 Agustus 1945
Jati diri mulai menyeruak ingin di daulat


Tengoklah Aceh kami sejenak
Gemulai penari diiringi syekh lantang
mengangkat kuduk ditangkap kornea
Saman, sayang.


Irian Jaya.
Tanah gembur, berladang emas.
Bahasa daerah ujung Indonesia
Indah berpeluruh jiwa.


Dimulai dari 17 Agustus 1945
Jati diri mulai menyeruak ingin di daulat


Kami sudah tak membawa kelewang
atau meneriakkan MERDEKA!!! sebelum berperang

Kala itu,
Saat sekutu memandang tetua kami
hanya embun yang menyeka kotoran pada dedaunan
kemudian, musnah.


Dimulai dari 17 Agustus 1945
Jati diri mulai menyeruak ingin di daulat


Di pundak kami
Di pundak Indonesia
Mengintegrasikan bahasa
Mengintergrasikan budaya
sebut saja,
Bhinneka Tunggal Ika 


Rindu kami padamu negeri
dengan jiwa-jiwa berpelongok kosong
Kami ketuk
Bahasa dan budaya pengisinya
berkerangkeng masa jajahan
Dimulai dari 17 Agustus 1945
Kami pewaris
Kami akan menggenapkan janji.





Aulia Masita


Rabu, 17 Oktober 2012

Puisi Cahaya Bulan- ost.Gie


Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan pelan di Lembah Kasih
Lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap
Kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta

Cahaya bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu
Bagaikan letusan berapi
Membangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban kegelisahan hati