Jumat, 29 Maret 2013

Karena Hati tak perlu Memilih (Part 1)



Bukankah aku sudah melabuhkan janji saat semuanya kembali. Tapi kenapa ia masih saja ku temukan dalam setiap kecewa yang membingungkan? atau ku kira kami memang tidak berjodoh.


Kalau jodoh bisa ku pinta, aku akan memilihmu.


Terakhir kali, aku menemui laki-laki itu di lorong-lorong kelas di SMA. Laki-laki berperawakan tenang, tinggi, rambut sedikit gondrong yang menarik perhatian guru killer saat SMA untuk memangkas asal rambutnya. Aku sering menemui jantungku berdebar ratusan kali lebih hebat dari biasanya saat di hadapannya, tapi aku tak akan bisa menangkap matanya, sama seperti aku yang tidak akan bisa mencintainya, kala itu.


Bagaimana bisa setelah 3 tahun, aku merindunya.


Menunggu kiranya adalah perasaaan yang selalu siap dengan ketidakpastian, sama seperti rindu yang kian memuncak setelah 3 tahun aku kehilangan mata sendunya, selalu tak pasti, sampai senja-minggu-ke-8105, dia datang kembali setiap fajar dengan kata 'halo' yang menggaungiku sampai detik ini.


 "Karena hati tak perlu memilih"


Itulah sepenggal kalimat yang ia ucapkan selepas perkataanku kalau-dia-bukanlah-pemilik-rindu-rindu-murniku, di perpisahaan kita.  Tidak! bahkan dia tak mau menyebut itu perpisahaan. Selalu saja, selalu ia mampu mengenyuhkan perasaanku, tapi tidak untuk hatiku. Selalu. 

***

"Hai, apa kabar" Kata laki-laki itu mengagetkanku.


"Baik, kamu? akhirnya setelah 3 tahun" Kataku sambil tersenyum.


"Iya, kamu masih terlihat dingin, Kalea"


"Dan kamu masih saja menghipnotisku dengan matamu, Danial"


"Ada apa?" Ucap Danial mencari arah gerik mataku.


"Ah, kamu masih saja.....masih sama seperti dulu"


"Aku siap memasang telingaku lebar-lebar untukmu, asal kali ini kamu yang teraktir"  Danial mengangkat alisnya.


Danial yang paling tahu keadaanku, sejak dulu, sejak aku menangis di depannya dan mengatakan pemilik rindu-rindu murniku bukanlah Danial, bahkan Danial sudah tahu sebelum aku mengatakannya, dan kemudian ia memintaku melabuhkan kemana pun hatiku akan berlayar. Jauh. Entah kemana perginya.

Danial memainkan cangkir kopi di tangannya, memutar-mutar cangkir, sambil sesekali menatap mataku. Rambutnya yang dibiarkan sedikit panjang melebihi telinganya kini terlihat acak-acakan tertiup angin, kumis tipis yang akhirnya ia dapatkan setelah 3 tahun lalu di idam-idamkan, dan kacamata dengan frem hitam yang kini menghiasa wajahnya. Manis sekali.


Danial yang tak lagi sama. Sudah tak ada lagi debar jantung yang ratusan kali lebih cepat kali ini. Apa perasaanku berubah atau semakin dalam. Aku mulai mendoktrin diriku, ini tak akan berbeda, tak akan. Terlebih hubunganku dengan Ferdian sudah berlangsung selama 3 tahun belakangan ini. Tak mungkin aku menyerahkan begitu saja padanya, pada Danial yang dulu tak pernah mempunyai tempat di hatiku, sedikitpun.

Pembuktiannya sudah ada dan ini tak mungkin terjadi lagi. Tak mungkin aku mengulang hal bodoh untuk ke dua kalinya. Tak mungkin aku membiarkan rasa bosan menguasaiku dan menjadikan Danial pelampiasan kembali. Kembali memutuskan kekasihku, lalu berpacaran dengan Danial dan sebulan kemudian aku akan bilang “ ini bukan cinta tapi hanya fatamorgana di tengah kemarauku bersama Ferdian, aku tak sejatinya mencintaimu, Danial”.


AH! Nyeri membayangkannya saja. Aku masih ingat sekali tatapan Danial yang begitu sendu seperti langit sore yang akan berganti malam. Tatapan yang ingin diyakinkan bahwa ini semua adalah mimpi. Aku sakit hati melihat Danial. Aku sakit hati pada diriku yang tak bisa mencintainya kala itu.



***


Kalea, saya tidak bisa membohongi semuanya. 3 tahun tak cukup untuk meninggalkan sisa-sisa perasaan saya untuk dia. Perasaan rindu berkepanjangan yang memerlukan dia untuk membilas habis semuanya.


Kalau jodoh bisa saya pinta, saya akan memilihmu, Kalea.


Sungguh kalimat itu sejatinya adalah sebenar-benarnya perasaan saya terhadapnya. Bagaimana di sela-sela tidur tak nyenyak saya selalu dibarengi dengan wajahnya. Bagaimana saya mencoba menggantikannya dengan Annisa, perempuan Jogja yang beberapa bulan ini kian hadir di hidup saya. Perempuan lembut yang selalu menjaga tingkah lakunya di manapun dan kapan pun. Bagaimana bisa saya mengabarkan semua itu terhadapnya.


Kelu. Sekelu-kelunya perasaan saya terhadapnya. Sejak 4 tahun lalu saya menyerahkan perasaan saya pada Kalea. Sepenuhnya. Seutuhnya. Sampai saya linglung harus seperti apa menghadapinya, harus bersikap apa saat di depannya, seperti apa menempatkan diri saya saat ia sedih karena pacarnya (dulu), dan harus seperti apa saat saya mengetahui Kalea telah sendiri serta meminta saya selalu berada di sampingnya.


Saya bisa apa. Ketika mimpi saya meminta saya.


Mimpi. Kalea adalah mimpi bagi saya. Mimpi yang terlampau jauh tanpa usaha. Saya tak pernah sedikitpun berusaha menggapainya.  Ini cinta yang sulit. Namun, saya masih tetap mengusahakannya lewat doa. Saya harap Tuhan mendengarkannya, saya harap Tuhan memastikan doa-doa saya tercatat  secara lengkap tanpa tertinggal 1 kata pun.


Lalu saat mimpi saya meminta saya. Saya bisa apa saat ia memerlukan pelukan hangat dari saya ketika jenuh pada kekasihnya. Meminta saya menemaninya walau hanya sekadar mutar-mutar di Mall. Saya bisa apa saat ia memutuskan pacarnya demi saya dan menyudahi hubungan kami ketika dia sadar, saya-dia-hanya sesaat. Saya tidak bisa menolak itu. Saya tidak bisa menolak,  ketika mimpi saya meminta saya.


Silahkan. Silahkan ia sebut saya tak punya prinsip. Tapi dia seharusnya mengerti, cinta tanpa prinsip adalah hal yang tak mudah. Tak dangkal. Bahkan, tak berujung. Sudah saya cari ribuan  hulu dari semua ini, tapi saya belum juga menemukannya. Bantu saya Kalea, bantu saya untuk menemukan titik-titik cahaya atau jurang kematian.


***
Aku mumutuskan hubunganku dengan Ferdian. 

Dan bisa kalian tebak, aku kembali pada Danial. Aku mulai mempercayakan segalanya pada Danial. Ku kira tak akan semudah waktu SMA, tapi kali ini aku yakin, hati bisa memilih.......

Aku bahagia. Minggu pertamaku sebagai kekasih Danial.














Rabu, 23 Januari 2013

Surat untuk Dahlan Iskan, NouraBooks.


Assalammu’alaikum, Bapak Dahlan Iskan.
Aku Aulia Masita, pelajar kelas 12 SMA dan belum mengerti apa itu hidup sebenar-benarnya.
Entahlah pak, saat aku mememutuskan untuk menulis ini, aku bimbang apa yang harus ku ketik di selembar microsoft word ini. Ku rasa terlalu sedikit, ketika aku harus membahas kesan dan inspirasi apa yang bisa ku ambil darimu.
Sebelumnya, aku belum tahu siapa kau ‘dulu’. Sejujurnya, aku jarang sekali menonton TV , terlebih melihat acara berita-berita yang membuat ku miris setiap harinya, lalu menanggalkan Negeri ini yang sedang menjerit dan bermain kembali layaknya remaja lainnya.
Di mulai dari membaca buku tentang ‘Surat Dahlan’. Entahlah, ada magis apa di buku itu. Aku begitu tertarik serta diselimuti perasaan bodoh karena telah mengabaikan jeritan Negeri ini. Aku begitu hanyut di dalamnya, masa kecilmu yang begitu berbeda denganku sekarang, harusnya aku bisa lebih menghargai hidup ini.
Pak, kalau ditanya apa yang membuatku terinspirasi darimu? Aku akan jawab ‘sepenuh harapan’. Iya, aku petik kata-kata tersebut dari novel ‘Surat Dahlan’. Sepenuh harapan kau memperjuangkan semuanya, apa yang semestinya lurus, ‘harus lurus’. Sesederhana itulah kau memikat masyarakat dengan kesederhanaanmu. Mengenal kisahmu, membuatku berkobar menggapai cita-cita dan ku harap Tuhan menjabahnya.
Aku hanya ingin menyampaikan kesan ku kali ini. Kesan terhadap laki-laki yang telah memikat masyarakat Negeri ini. Aku bertanya-tanya “mengapa kau tak ingin memimpin Negeri ini?” dan sesaat setelahnya, aku menjawab sendiri “mungkin kau punya rencana sederhana lain, tentu selain menjadi pemimpin Negeri ini”.
Pak, seperti yang ku bilang tadi, 1 halaman microsoft word tak akan mampu mengurai satu per satu perkataanku. Maaf kalau ada perkataanku yang tak berkenan. Kalau kau sungguh membaca suratku, aku akan sangat berterimakasih pada ajang lomba menulis yang diadakan NouraBooks ini, karena secara tak langsung aku telah berbicarapadamu. Doaku selalu menyertaimu, bapak Dahlan Iskan. Wassalamu’alaikum.
-Aulia Masita-

Kamis, 25 Oktober 2012

UMT POEMS DAY

    Alhamdulillah ini puisi pertama yang berhasil meraih juara 2 di Universitas Muhammadiyah Tangerang. Puisi dibuat pada saat acara dimulai, tema juga diberitahu saat acara akan dimulai. Puisi ini bertemakan Bahasa dan Budaya.

Kami akan Menggenapkan Janji

Hembuskan napas-napas kau disini---di negerimu
Dulu kau ingat?
Ah, tidak. Kau hanya mendengar
memperkuat indera pendengaran 
lalu utopis perlahan menghampiri


Dimulai dari 17 Agustus 1945
Jati diri mulai menyeruak ingin di daulat


Kami Indonesia! 
Berbahasa satu, bahasa Indonesia
Kami Indonesia!
Budaya bagai air putih teman minum obat, kau.


Dimulai dari 17 Agustus 1945
Jati diri mulai menyeruak ingin di daulat


Tengoklah Aceh kami sejenak
Gemulai penari diiringi syekh lantang
mengangkat kuduk ditangkap kornea
Saman, sayang.


Irian Jaya.
Tanah gembur, berladang emas.
Bahasa daerah ujung Indonesia
Indah berpeluruh jiwa.


Dimulai dari 17 Agustus 1945
Jati diri mulai menyeruak ingin di daulat


Kami sudah tak membawa kelewang
atau meneriakkan MERDEKA!!! sebelum berperang

Kala itu,
Saat sekutu memandang tetua kami
hanya embun yang menyeka kotoran pada dedaunan
kemudian, musnah.


Dimulai dari 17 Agustus 1945
Jati diri mulai menyeruak ingin di daulat


Di pundak kami
Di pundak Indonesia
Mengintegrasikan bahasa
Mengintergrasikan budaya
sebut saja,
Bhinneka Tunggal Ika 


Rindu kami padamu negeri
dengan jiwa-jiwa berpelongok kosong
Kami ketuk
Bahasa dan budaya pengisinya
berkerangkeng masa jajahan
Dimulai dari 17 Agustus 1945
Kami pewaris
Kami akan menggenapkan janji.





Aulia Masita


Rabu, 17 Oktober 2012

Puisi Cahaya Bulan- ost.Gie


Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan pelan di Lembah Kasih
Lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap
Kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta

Cahaya bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu
Bagaikan letusan berapi
Membangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban kegelisahan hati

Minggu, 08 Juli 2012

Surat di Blog ini milikmu, Bu.

Ibu. Sudah berapa lama kita tak berjejal cerita? aku sudah dewasa? kalau iya, aku benci dewasa! mencipta jarak di-satu atap seperti sekarang. Bu, aku ingin bersandar di pangkuanmu lagi, ingin memotong-motong sayuran di dapur bersamamu, yang paling terindu, sisiran lembutmu di rambut panjang hitamku.
Bu, apa dewasa itu menahan tangis di depanmu? apa dewasa itu mengurung diri seharian di kamar sempitku? apa dewasa itu menyakitkan bu?
Surat di blog ini milik Ibu.
Bu, aku sudah 17 th. Bisakah ku tentukan arahku sendiri? Bisakah kau tidak lagi menghubungiku saat petang mulai berganti menjadi malam dan aku belum di atap yang sama denganmu? Bisakah kau tak perlu menanyai aku akan pulang dengan siapa nanti malam? bisakah bu? Tidak. Aku yakin ibu akan menjawab itu.
Bu, aku perimu, peri kecil yang sudah dewasa, peri kecil yang mulai bisa berbual, yang mulai bertentangan, yang mulai membuatmu menangis di setiap doamu.
Maaf...Maafkan untuk gejolak jantungmu yang mulai berdebar kencang di setiap bentakku.
Maaf..Aku bukan pemijat handal saat tubuhmu mulai pegal menanggung beban hari ini.
Maaf..Aku bukan empunya otak yang cerdas agar menjadi juara kelas setiap tahunnya.

Ibu, dariku, si Bungsu.

Minggu, 29 April 2012

Kesempurnaan Semu (2010)


          Entah dari mana dan kapan semua ini terjadi? Tapi aku begitu menikmati buaian mimpi yang mengalir begitu saja dalam pikiran ini. Seolah-olah tak pernah habis untuk membuat karangan yang begitu saja terucap dari lisanku.

          “Eh lihat kalung baruku, ini dari mamaku”  Ujarku sambil memperlihatkan kalung yang tergantung apik dileherku.
          “Wahh bagus banget kalungnya. Ohiya, enak sekali ya jadi kamu, apa yang kamu inginkan selalu ada dan mamamu itu ya... perhatian sekali”  Iri salah seorang sahabatku, Dira.
         “Ah, kamu bisa saja, mamaku memang sempurna. Bahkan sempurna sekali”  Banggaku sekali lagi pada sahabat-sahabatku.
         “Iya Al ,bahkan kami semua iri sekali padamu”  Timpal Karra.
         “Hehe bisa saja kalian, Oh iya nanti pulang sekolah temani aku beli kado ya untuk mamaku. Besok dia ulang tahun, mau kan?”  Ajakku pada ketiga sahabatku.
         “Hem okedeh untuk sahabat kita dan mamanya yang paling sempurna”  Jawab Shera menerima ajakan ku.

          Sepulang sekolah kami berempat meninggalkan sekolah dan menuju Mall paling terdekat. Aku entah harus apa? senang atau bagaimanakah seharusnya aku?

          “Al, kamu mau beli apa? lihat deh ada kalung yang cantik sekali untuk mamamu. Ssepertinya akan pas dan cocok untuk seorang ibu yang kamu banggakan selalu”  Tanya Karra padaku.
         “Wahh kamu pintar sekali Kar, aku sangat suka dengan kalung ini”  Kataku sambil melihat kalung itu.
         “Hm tapi harganya lumayan mahal loh Al”  Ujar Shera yang melihat sambil melihat kalung itu kalung itu.
         “Ah ga masalah lah, untuk mamaku apa sH yang enggak” Sombongku pada mereka.
         “Hm okel deh Al”  Jawab mereka semua.

          Dira yang mendengar ucapanku sedikit kesal, entah mereka mau bilang aku seperti apa, tapi aku selalu nyaman jika aku menjadi aku yang seperti ini.

         Keesokan harinya...
         Ketiga sahabatku ternyata menyiapkan sesuatu untuk mamaku. Mereka bahkan belum pernah melihat dan mengobrol dengan mamaku. Tapi mereka begitu hangat dengan hidupku. Mereka care dan sangat mengagumi mamaku. Cerita-ceritaku tentang seorang ibu yang begitu akrabnya dengan seorang anak itu yang membuat mereka begitu hangatnya denganku. Sepulang sekolah, aku pamit pada mereka. Aku seperti orang yang bersemangat untuk pulang kerumah.
         Ya. Hari ini tanggal 22 Desember, benar mamaku berulang tahun dan ku bilang pada sahabatku hadiahnya sudah ku berikan pada mamaku lalu mamaku berkata “Terima kasih sayang, mama senang sekali” Sambil mengecup keningku dan memelukku.
Dira, Karra dan Shera begitu kagum dengan ceritaku tadi. Mereka bergegas menyusun rencana untuk kedatangannya kerumahku.
          Sore itu, mereka membawa kue bertuliskan “Happy Birthday Mamanya Aliya”. Mereka tiba dirumahku saat aku sedang mandi. Bell rumah berbunyi dan seorang perempuan keluar untuk membukakan pintu rumah.

          “Assalamualaikum benar ini rumahnya Aliya?”  Tanya Dira pada perempuan yang sudah berumur itu.
          “Iya benar non benar, ini temannya non Aliya ya?”  Jawab perempuan itu. Dia adalah pembantu keluarga Aliya.
          “Iya kami temannya Aliya, Aliya nya ada bi? ” Ucap Shera.
          “Ada non. Tapi sedang mandi, non langsung saja ke kamarnya non Aliya di lantai 2 ya”  Unjuk bibi pada meraka bertiga.
          “Iya terimakasih ya bi”  Ucap mereka bertiga dan sambil berjalan menuju ke lantai 2.

           Mereka bertiga melihat-lihat sekekeling rumah Aliya, sambil berjalan menuju kamar Aliya. Rumah bergaya klasik itu terlihat sedikit aneh, tidak ada satupun foto keluarga yang terpajang di dinding-dinding rumah itu. Jauh berbeda dengan kehangatan yang diceritakan Aliya pada teman-temannya. 
            Mereka bertiga sampai pada kamar yang dimaksudkan oleh si bibi. Di depan pintunya terdapat tulisan “ALIYA”. Ya, itu memang kamar Aliya. Mereka mulai membuka kamar itu dan seketika itu juga mereka kaget melihat kamar Aliya yang sangat kontras berbeda dengan keadaan Aliya. Aliya yang rapih, ceria dan rajin. Di dalam kamarnya terlihat buku-buku yang berserakan, tempat tidur yang berantakan, kertas-kertas remasan yang bergeletak begitu saja dilantai dan sebuah kotak besar. Mereka bertiga terngangah melihat semua itu. Mereka mulai melihat-lihat kamar Aliya. Dira yang saat itu begitu penasaran dengan kotak besar itu, segera membuka kotak itu. Ia terperangah melihat isi kotak itu.

            “Eh lihat Kar, Sher ini bukannya kotak kalung yang Aliya ingin kasih ke mamanya?” Ujar Dira sambil membuka kotak kalung itu.
            “Ha? bukannya Aliya bilang udah dikasih ke mamanya ya? kalian inget kan tadi pagi dia bilang gitu ke kita?” Timpal Shera.
            “Eh eh coba ini masih ada yang lain, ini semua hadiah-hadiah. Tapi untuk siapa? untuk apa semua ini dan kenapa tidak pernah diberikan?” Ucap Karra yang bingung melihat hal tersebut.

             Mereka bertanya-tanya dan terus melihat-lihat barang-barang itu,mereka membaca satu persatu kartu ucapan yang tertera pada kado tersebut.


TAHUN 2007
Happy birthday ma!aku punya hadiah buat mama, semoga mama senang ya.
Ini tahun pertama ulang tahun mama tanpa bertemu aku? aku tidak pernah tau alasan kalian kenapa harus berpisah!
Tapi sungguh ini berat untukku, papa sibuk dengan urusannya dan aku sendiri disini. Tanpa tahu apa yang aku lakukan dengan hadiah ini. Sekarang? sekarang mama tau aku menjadi seorang anak yang biasa disebut BROKEN HOME!

TAHUN 2008
Happy birthday ma! aku punya hadiah lagi untuk mama seperti tahun lalu, dan aku harap mama selalu senang.
Ini tahun kedua mama berulang tahun tanpa aku, semenjak hari dimana mama pergi meninggalkan aku dan papa. Serta memberikan talak dan terjadi perceraian itu, lalu aku memohon-mohon untuk mama tidak meninggalkan aku, tidak pergi untuk sebuah keegoisan yang ada pada diri mama.
Ma? mama tau? aku mulai iri dengan teman-temanku, mereka punya mama. Punya seorang yang akan selalu ada jika mereka lelah. Tapi aku? aku bahkan tidak mengerti mama meninggalkanku kami karena apa.

Tahun 2009
Happy birthday ma! lagi-lagi aku punya hadiah untuk mama. Aku tidak pernah tahu alasan aku membeli semua hadiah ini, lalu hanya aku simpan di kotak favoritku. Sampai bibi pun tidak pernah berani menyentuh kotak itu ma.
Ohya ma, ini tahun ketiga sudah. Ma, saat ini aku mulai menjadi diriku yang lain! aku mulai berbohong dengan mereka semua! aku berpura-pura sempurna! bahkan sangat sempurna di depan mereka tentang mama, tentang hidupku!

Tahun 2010
Happy birthday ma! lagi dan lagi seperti ini terus. Bersembunyi dibalik kesedihanku, dibalik kebohonganku tentang mama. Kadang aku berpikir untuk mencarimu, ma.
Ini tahun keempat sudah. Ma, kali ini aku membeli hadiah ini dengan sahabatku. Kami mencari hadiah ini bersama. Mereka bilang mama sempurna, mama ibu terbaik sedunia. Tapi sayang itu hanya karangan belaka, ma.
Nyatanya aku terlalu sakit hati untuk seorang ibu yang 4 tahun lalu meninggalkanku tanpa perduli rengekanku, tanpa peduli aku mengejar nya hingga tubuhku terjatuh dan lututku terluka karenanya. Dan aku hanya dibesarkan oleh angan dan mimpi-mimpiku, kemudian aku merasakan rasa kecemburuan terhadap mereka yang begitu hangatnya bersama ibunya, aku berpura-pura menjadi salah seorang yang sempurna diantara mereka!
Aku benci padamu! aku benci mengakuimu sebagai seorang yang sempurna, tapi entah kenapa aku terus merindukan hangatmu.



          Setelah mereka bertiga membaca kartu ucapan itu, seketika Aliya datang.
          Krek…suara pintu terdengar terbuka.
          Aku membuka pintu kamarku, aku melihat sahabat-sahabat ku berdiri di depan kotak ku. Aku melihat mereka sedang membongkar dan membaca kartu ucapanku. Entah apa yang kurasakan? rasanya ingin aku menghilang saat itu juga, ingin aku membunuh mereka semua saat itu juga! dan melakukan apa saja agar mereka tidak akan mengingat apa yang mereka baca dan lihat di dalam kotakku. Tapi semua itu tidak mungkin. Akhirnya keluar semua yang selama ini aku tutupi. Lekat-lekat ku tatap mereka satu persatu dan dari mereka satupun tidak ada yang berbalas menatapku. Seketika itu juga aku mulai merasa sekujur tubuhku dingin sampai akhirnya sebuah kata-kata tanpa ragu ku lepaskan pada sahabat-sahabatku.

          “KALIAN SEDANG APA DISANA? SEDANG APA BERDIRI DISINA?” Kataku sambil menatap mereka, mataku pun mulai panas dan seluruh amarahku mulai naik.
           Mereka hanya diam, diam tanpa menjawab sebuah pertanyaanku. Yang berarti apa yang aku lihat saat membuka pintu itulah benar dan nyata. Lalu tanpa ragu lagi-lagi aku berteriak .

          “IYA! PUAS KALIAN? AKU HANYALAH PEMBOHONG! PEMBUAL ! AKU BROKEN HOME! MAMA YANG SELAMA INI AKU CERITAKAN TIDAK PERNAH ADA! AKU CUMA SEORANG ANAK YANG DITINGGAL PERGI OLEH IBUNYA KARENA SEBUAH ALASAN YANG ENTAH AKU TIDAK TAHU APA ITU!” Aku mulai meneteskan air mata, aku berteriak sekeras-kerasnya saat itu. AKU YANG SEPERTI ORANG BODOH MENYIMPAN SEMUA HADIAH UNTUK MAMAKU DAN SEPERTI ORANG GILA YANG YANG SANGAT BUTUH KASIH SAYANG! ITU AKU? KALIAN TAHU KENAPA TIDAK PERNAH AKU MENGAJAK KALIAN KERUMAHKU? KARENA TIDAK ADA IBU YANG MENYAMBUTKU SAAT PULANG KERUMAH SEPERTI KALIAN! TIDAK ADA IBU YANG MEMBELIKAN AKU KALUNG INDAH YANG AKU PAKAI SAAT INI? KARENA TIDAK ADA FOTO-FOTO KELUARGA YANG TERPAJANG DI DINDING-DINDING RUMAHKU SEPERTI KALIAN! AKU IRI PADA KALIAN! KARENA ITU AKU MEMBUAL SEMUA ITU, KARENA ITU AKU BERBUAT SEPERTI ITU! PAPAKU SIBUK, AKU TIDAK PUNYA SAUDARA! HANYA KALIAN YANG AKU PUNYA! DAN AKU TIDAK INGIN KALIAN IKUT PERGI MENINGGALKAN AKU SEPERTI IBUKU. TOLONG TERUS ADA DISINI, DISAMPINGKU. TERUS ADA DAN DUKUNG AKU MENJADI DIRIKU SENDIRI DAN MAAFKAN AKU” Ujarku sambil menagis dihadapan sahabatku. Aku menunduk dan aku mulai merasakan tubuhku tidak mampu menahan semua ini.

          “AL, KITA ITU SAHABAT! AKU GA PERDULI MAU KAMU GIMANA? KAYA APA? AKU TIDAK PERDULI MAU KAMU BROKEN HOME ATAU APA SAJA AL! KAMI PASTI DUKUNG KAMU! KAMI PASTI SELALU BERSEDIA MELUK KAMU SAAT KAMU BUTUH PELUKAN KAMI, KAMI PASTI ADA UNTUK KAMU" Ujar Shera tak kalah lantang denganku.

          Aku entah harus apa? kenapa mereka begitu baiknya terhadapku. Mereka tidak seperti fikiranku yang bilang bahwa mereka akan meninggalkanku, seperti ibuku saat itu. Tapi tidak! lihat mereka? mereka ada disampingku, sambil memeluk ku erat sekali. Mendekap dengan rasa hangat yang beberapa tahun ini tidak pernah aku temui di kehidupanku. Mungkin selama ini aku terlalu egois untuk memendam kesedihanku, sakit hatiku dan rasa kesepianku sendirian. Bahkan seorang yang kesebut papa dan tidak jarang ku harapkan akan bisa berperan sebagai ibu juga, tidak pernah kutemui dalam setiap harinya. Entah sejak kapan papa selalu mencari kesibukan yang menggila itu. Ingin rasanya aku berkata pada laki-laki itu “B ukan hanya kau yang terpuruk pa?aku disini juga, mama pergi. Apa kau jg perlahan-lahan akan pergi? aku mengerti perasaanmu ,aku tahu pa! rasa di khianati yang begitu menusuk dihatimu. Tapi kau masih punya aku? aku bukan anak kecil lagi, bukan cuma seorang anak yang begitu saja menerima alasanmu dengan perceraian itu. Tapi sudahlah….aku bisa terima itu”
Perlahan-lahan aku menutup semua kenangan pahit itu, aku mulai jadi diriku. Aku bisa terima semua keadaanku, aku terima keluargaku seperti ini. Ternyata bukanlah sebuah kesempurnaan yang selalu indah melainkan sebuah kejujuran yang akan memberi sebuah kesempurnaan.




Aulia Masita 
(2010)

Surat @nulisbuku


Untukmu, yang telah memudar.
         Beberapa bulan lalu kau masih pancarkan terikmu ke hembus nafasku. Begitu kuatnya, sampai-sampai aku tak mampu mengkontrol gebu-gebu yang kutanggung, yang sering mereka sebut “Cinta”. Ya. Aku mencintaimu, dengan ruang yang lapang dan putihnya perasaan ini. Kemudian aku menjejaki lorong-lorong hidupmu. Sampai ketika diakhir lorong, aku menemukan sebuah pintu gelap. Sebut saja, masa lalumu.
         Aku ingin begitu saja melewati pintu itu, aku tak pernah mau masuk kedalamnya, sejujurnya. Entah hatiku meraung menggoda untuk aku berbelok kedalamnya. Benar saja, remuk redam bentengku. Kalian bercumbu disaat aku mulai mem-per-ta-hankan, ini “Cinta”....untukmu. Entahlah...aku rasa, aku tak bermimpi atau aku yang salah memasuki lorong yang telah ditempati oleh dia. Harusnya aku tak masuk, karena tak ada tempat lagi untuk pengemis harap sepertiku.
         Aku gila, gila dengan sakit hati yang begitu memilukan ini. Aku jatuh, jatuh dengan sejuta harapan yang telah ku buat untuk kita. Aku rapuh, rapuh dengan angan yang kian membelengguku dengan manis buaian mesramu, yang dulu kau hadirkan ditengah-tengah kita. Sayang aku bukan satu-satunya yang berada di lorongmu.
         Bodoh! aku masih menunggu. Tapi entahlah siluetmu kian lama memudar, terhapus ombak yang menerjang pasir pantai lalu hilang. Lenyap. Untuk apa lalu? untuk jiwaku yang belum puas menyadarkan kau dengan segala egoismu.
Untukmu, yang telah memudar. Rinduku mulai bergejolak, menjadi sayatan luka karena menanti kau yang jelas-jelas tak menoleh.
Untukmu, yang telah memudar. Aku menunggu. Dengan seenggok tubuh yang masih sama seperti dulu. Yaitu, mencintaimu.


Dariku,yang terlupakan.