Untukmu, yang
telah memudar.
Beberapa bulan
lalu kau masih pancarkan terikmu ke hembus nafasku. Begitu kuatnya, sampai-sampai
aku tak mampu mengkontrol gebu-gebu yang kutanggung, yang sering mereka sebut
“Cinta”. Ya. Aku
mencintaimu, dengan ruang yang lapang dan putihnya perasaan ini. Kemudian aku
menjejaki lorong-lorong hidupmu. Sampai ketika diakhir lorong, aku menemukan
sebuah pintu gelap. Sebut saja, masa lalumu.
Aku ingin begitu
saja melewati pintu itu, aku tak pernah mau masuk kedalamnya, sejujurnya. Entah hatiku
meraung menggoda untuk aku berbelok kedalamnya. Benar saja, remuk redam
bentengku. Kalian bercumbu disaat aku mulai mem-per-ta-hankan, ini
“Cinta”....untukmu. Entahlah...aku
rasa, aku tak bermimpi atau aku yang salah memasuki lorong yang telah ditempati
oleh dia. Harusnya aku tak masuk, karena tak ada tempat lagi untuk pengemis harap
sepertiku.
Aku gila, gila
dengan sakit hati yang begitu memilukan ini. Aku jatuh, jatuh dengan sejuta
harapan yang telah ku buat untuk kita. Aku rapuh, rapuh dengan angan yang kian
membelengguku dengan manis buaian mesramu, yang dulu kau hadirkan
ditengah-tengah kita. Sayang aku bukan satu-satunya yang berada di lorongmu.
Bodoh! aku masih menunggu. Tapi entahlah siluetmu kian lama memudar, terhapus ombak yang menerjang pasir pantai lalu hilang. Lenyap. Untuk apa lalu? untuk jiwaku yang belum puas menyadarkan kau dengan segala egoismu.
Bodoh! aku masih menunggu. Tapi entahlah siluetmu kian lama memudar, terhapus ombak yang menerjang pasir pantai lalu hilang. Lenyap. Untuk apa lalu? untuk jiwaku yang belum puas menyadarkan kau dengan segala egoismu.
Untukmu, yang
telah memudar. Rinduku mulai bergejolak, menjadi sayatan luka karena menanti kau
yang jelas-jelas tak menoleh.
Untukmu, yang telah memudar. Aku menunggu. Dengan seenggok tubuh yang masih sama seperti dulu. Yaitu, mencintaimu.
Untukmu, yang telah memudar. Aku menunggu. Dengan seenggok tubuh yang masih sama seperti dulu. Yaitu, mencintaimu.
Dariku,yang terlupakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar