Minggu, 29 April 2012

Surat @nulisbuku


Untukmu, yang telah memudar.
         Beberapa bulan lalu kau masih pancarkan terikmu ke hembus nafasku. Begitu kuatnya, sampai-sampai aku tak mampu mengkontrol gebu-gebu yang kutanggung, yang sering mereka sebut “Cinta”. Ya. Aku mencintaimu, dengan ruang yang lapang dan putihnya perasaan ini. Kemudian aku menjejaki lorong-lorong hidupmu. Sampai ketika diakhir lorong, aku menemukan sebuah pintu gelap. Sebut saja, masa lalumu.
         Aku ingin begitu saja melewati pintu itu, aku tak pernah mau masuk kedalamnya, sejujurnya. Entah hatiku meraung menggoda untuk aku berbelok kedalamnya. Benar saja, remuk redam bentengku. Kalian bercumbu disaat aku mulai mem-per-ta-hankan, ini “Cinta”....untukmu. Entahlah...aku rasa, aku tak bermimpi atau aku yang salah memasuki lorong yang telah ditempati oleh dia. Harusnya aku tak masuk, karena tak ada tempat lagi untuk pengemis harap sepertiku.
         Aku gila, gila dengan sakit hati yang begitu memilukan ini. Aku jatuh, jatuh dengan sejuta harapan yang telah ku buat untuk kita. Aku rapuh, rapuh dengan angan yang kian membelengguku dengan manis buaian mesramu, yang dulu kau hadirkan ditengah-tengah kita. Sayang aku bukan satu-satunya yang berada di lorongmu.
         Bodoh! aku masih menunggu. Tapi entahlah siluetmu kian lama memudar, terhapus ombak yang menerjang pasir pantai lalu hilang. Lenyap. Untuk apa lalu? untuk jiwaku yang belum puas menyadarkan kau dengan segala egoismu.
Untukmu, yang telah memudar. Rinduku mulai bergejolak, menjadi sayatan luka karena menanti kau yang jelas-jelas tak menoleh.
Untukmu, yang telah memudar. Aku menunggu. Dengan seenggok tubuh yang masih sama seperti dulu. Yaitu, mencintaimu.


Dariku,yang terlupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar