Sabtu, 27 Juli 2013
Kamu seperti menjauhiku. Tubuh tinggimu tak lagi bisa tertangkap korneaku. Ku rasa minus pada mataku bertambah, sehingga tak jelas lagi rupamu dalam bola mataku. Sudah ku usap pelan 3x mataku, sampai bagian putih dalam bola mataku berubah kemerahan, tapi sumpah aku tak bisa melihatmu disamping, depan, maupun di dekatku. Kemana kamu? Jangan menjauhiku, aku sudah cukup lelah memaksamu kembali mencintaiku. Aku ngilu dengan kata-kata cinta, ku rasa akan berat. Tapi, aku yakin, aku mencintaimu. Meski aku tak pernah tahu bagaimana cinta bisa 360 derajat merubahku akanmu. Tak juga setelah 2 tahun lebih aku menemukan alasan, bagaimana aku bertahan denganmu, sebab penyair bilang, kalau cinta maka kamu tak perlu alasan. Ku rasa aku begitu. Bukan, bukan sekedar ikut-ikutan petinggi syair, tapi sungguh percayalah, kalau kau tulus maka kau tak akan menemukan alasan. Jangan terlalu jauh lari, aku takut tak bisa lagi menyeimbangkan langkahmu. Di sampingmu. Langkahku pelan, 2x langkahmu. Seimbangkan aku disampingmu, untuk aku tahu, cinta itu perlu menyeimbangkan. Sebab aku menulis ini tanpa ku pikir, apa alasan aku menulis ini, maka dari itu percayalah aku mencintaimu.
Kamis, 16 Mei 2013
Jangan lagi pasang tamengmu. Sebab aku dan kamu adalah sama.
Rabu, 08 Mei 2013
runaway.
Kalau menulis itu adalah sebuah nada dalam alat musikmu. Kali ini aku telah kehilangan banyak nada. Aku lupa caranya memainkan nada yang kamu ajarkan. Seperti kamu yang melupakan perasaan perempuan setipis kulit ari-mu sendiri. Seperti kamu yang lupa, kalau satu-satunya inspirasiku adalah kamu. Seperti kamu yang lupa barangkali bahagia itu tidak lagi nyata. Seperti kamu yang juga lupa, sekarang aku mengenggam tanganmu bukan yang lain.
Aku berusaha mencari tahu bagaimana dirimu. Apa yang dulu kamu takut-takutkan yang seiring waktu semakin bertambah parah, emosi. Bagaimana yang kau sebut-sebut tak berwujud itu bisa melupakan segalanya. Bagaimana ia bisa begitu saja melukaiku pada bagian-bagian yang selama ini kau coba jaga, hatiku. Bagaimana bisa kamu yang sekarang selemah ini? selemah ini memberikanku pada emosi yang kau rasakan, yang bahkan 5 menit kemudian bisa kau sesalkan. Aku nyeri membayangkan segalanya menimpaku, tapi aku lebih nyeri lagi jika aku yang akan melihatmu di posisiku.
Aku sering lihat banyak kata-kata seperti "kalau hanya kamu yang bertahan, sedangkan dia tidak, untung apalagi kamu bertahan". Apa kita seperti itu? tidak kan? aku juga yakin kamu akan memperjuangkanku. Entahlah, aku tak pernah berada di posisimu, tapi ku rasa sangat-amat-berat.
Perlahan tinta-tinta warna kita memudar. Kamu tahu artinya? ya. kita perlu membeli yang baru. Kita buat banyak warna lainnya kedepan dan kamu tahu, seharusnya kita sudah melupakan yang lalu sejak lama.
Aku tahu kamu hanya mengujiku.
Kalau waktu bisa berbicara, ia pasti akan mengintrogasimu terus menerus dengan pertanyaan 'kapan ujian untukku berakhir' dan kamu akan kepusingan mendengar ocehannnya. hehe
Sabtu, 30 Maret 2013
Perempuan itu menghilang. Entah lenyap dimakan sakit hati atau melihat namun tak memberi respons. Sebenarnya kamu di mata saya adalah hal ke sekian yang saya takutkan karena sebuah kehilangan. Kehilangan berbeda dari sebelumnya yang berhasil saya dapatkan kembali. Kehilangan yang membawa saya pada akhirnya kembali ke rumah saya. Rumah tua yang akan kami renovasi kembali.
Puisi Sepi
Pagi ini begitu menguras habis peranku
Entah akan berdiri sebagai apa
Di tepi kesepian kamu berdiri
Entah menarik lembut lengan siapa
Aku seperti awal menulis bait puisi
Melupakan kiasan yang memutar otak
Dan aku menulis apa
Aku tak ingat
Puisi sepi ini tak berhulu
Namun tetap mencari hulu
Meski aku tahu
Hulu tak akan ada, untuk kamu di setiap baitku.
Entah akan berdiri sebagai apa
Di tepi kesepian kamu berdiri
Entah menarik lembut lengan siapa
Aku seperti awal menulis bait puisi
Melupakan kiasan yang memutar otak
Dan aku menulis apa
Aku tak ingat
Puisi sepi ini tak berhulu
Namun tetap mencari hulu
Meski aku tahu
Hulu tak akan ada, untuk kamu di setiap baitku.
Jumat, 29 Maret 2013
Karena Hati tak perlu Memilih (Part 1)
Bukankah aku
sudah melabuhkan janji saat semuanya kembali. Tapi kenapa ia masih saja ku temukan dalam
setiap kecewa yang membingungkan? atau ku kira kami memang tidak berjodoh.
Kalau
jodoh bisa ku pinta, aku akan memilihmu.
Terakhir
kali, aku menemui laki-laki itu di lorong-lorong kelas di SMA. Laki-laki
berperawakan tenang, tinggi, rambut sedikit gondrong yang menarik perhatian
guru killer saat SMA untuk memangkas asal rambutnya. Aku sering menemui
jantungku berdebar ratusan kali lebih hebat dari biasanya saat di
hadapannya, tapi aku tak akan
bisa menangkap matanya, sama seperti aku yang tidak akan bisa mencintainya,
kala itu.
Bagaimana
bisa setelah 3 tahun, aku merindunya.
Menunggu
kiranya adalah perasaaan yang selalu siap dengan ketidakpastian, sama seperti
rindu yang kian memuncak setelah 3 tahun aku kehilangan mata sendunya, selalu tak pasti, sampai
senja-minggu-ke-8105, dia datang kembali setiap fajar
dengan kata 'halo' yang menggaungiku sampai detik ini.
"Karena
hati tak perlu memilih"
Itulah
sepenggal kalimat yang ia ucapkan selepas perkataanku
kalau-dia-bukanlah-pemilik-rindu-rindu-murniku,
di perpisahaan kita. Tidak! bahkan dia tak mau menyebut itu perpisahaan.
Selalu saja, selalu ia mampu mengenyuhkan perasaanku,
tapi tidak untuk hatiku. Selalu.
***
"Hai,
apa kabar" Kata laki-laki itu mengagetkanku.
"Baik,
kamu? akhirnya setelah 3 tahun" Kataku sambil tersenyum.
"Iya,
kamu masih terlihat dingin, Kalea"
"Dan
kamu masih saja menghipnotisku dengan matamu, Danial"
"Ada
apa?" Ucap Danial mencari arah gerik mataku.
"Ah,
kamu masih saja.....masih sama seperti dulu"
"Aku
siap memasang telingaku lebar-lebar untukmu, asal kali ini kamu yang
teraktir" Danial mengangkat alisnya.
Danial
yang paling tahu keadaanku, sejak dulu, sejak aku menangis di depannya dan
mengatakan pemilik rindu-rindu murniku bukanlah Danial, bahkan Danial sudah
tahu sebelum aku mengatakannya, dan kemudian ia memintaku melabuhkan kemana pun
hatiku akan berlayar. Jauh. Entah kemana perginya.
Danial
memainkan cangkir kopi di tangannya, memutar-mutar cangkir, sambil sesekali
menatap mataku. Rambutnya yang dibiarkan sedikit panjang melebihi telinganya
kini terlihat acak-acakan tertiup angin, kumis tipis yang akhirnya ia dapatkan
setelah 3 tahun lalu di idam-idamkan, dan
kacamata dengan frem hitam yang kini menghiasa wajahnya. Manis sekali.
Danial
yang tak lagi sama. Sudah
tak ada lagi debar jantung yang ratusan kali lebih cepat kali ini. Apa
perasaanku berubah atau semakin dalam. Aku mulai mendoktrin diriku, ini tak
akan berbeda, tak akan. Terlebih hubunganku dengan Ferdian sudah
berlangsung selama 3 tahun belakangan ini. Tak mungkin aku
menyerahkan begitu saja padanya, pada Danial yang dulu tak pernah mempunyai
tempat di hatiku, sedikitpun.
Pembuktiannya sudah ada dan ini
tak mungkin terjadi lagi. Tak mungkin aku mengulang hal bodoh untuk ke dua
kalinya. Tak mungkin aku membiarkan rasa bosan menguasaiku dan menjadikan
Danial pelampiasan kembali. Kembali memutuskan kekasihku, lalu berpacaran
dengan Danial dan sebulan kemudian aku akan bilang “ ini bukan cinta tapi hanya
fatamorgana di tengah kemarauku
bersama Ferdian, aku tak sejatinya mencintaimu, Danial”.
AH! Nyeri membayangkannya saja.
Aku masih ingat sekali tatapan Danial yang begitu sendu seperti langit sore
yang akan berganti malam. Tatapan yang ingin diyakinkan bahwa ini semua adalah
mimpi. Aku sakit hati melihat Danial. Aku sakit hati pada diriku yang tak bisa
mencintainya kala itu.
***
Kalea, saya tidak bisa membohongi
semuanya. 3 tahun tak cukup untuk meninggalkan sisa-sisa perasaan saya untuk
dia. Perasaan rindu berkepanjangan yang memerlukan dia untuk membilas habis semuanya.
Kalau
jodoh bisa saya pinta, saya akan memilihmu, Kalea.
Sungguh kalimat itu sejatinya
adalah sebenar-benarnya perasaan saya terhadapnya. Bagaimana di sela-sela tidur
tak nyenyak saya selalu dibarengi dengan wajahnya. Bagaimana saya mencoba menggantikannya
dengan Annisa, perempuan Jogja yang beberapa bulan ini kian hadir di hidup
saya. Perempuan lembut yang selalu menjaga tingkah lakunya di manapun dan kapan
pun. Bagaimana bisa saya mengabarkan semua itu terhadapnya.
Kelu. Sekelu-kelunya perasaan saya
terhadapnya. Sejak 4 tahun lalu saya menyerahkan perasaan saya pada Kalea.
Sepenuhnya. Seutuhnya. Sampai saya linglung harus seperti apa menghadapinya,
harus bersikap apa saat di depannya, seperti apa menempatkan diri saya saat ia
sedih karena pacarnya (dulu), dan harus seperti apa saat saya mengetahui Kalea
telah sendiri serta meminta saya selalu berada di sampingnya.
Saya bisa apa. Ketika mimpi saya
meminta saya.
Mimpi. Kalea adalah mimpi bagi
saya. Mimpi yang terlampau jauh tanpa usaha. Saya tak pernah sedikitpun
berusaha menggapainya. Ini cinta yang sulit. Namun, saya masih tetap
mengusahakannya lewat doa. Saya harap Tuhan mendengarkannya, saya harap Tuhan
memastikan doa-doa saya tercatat secara lengkap tanpa tertinggal 1 kata
pun.
Lalu saat mimpi saya meminta
saya. Saya bisa apa saat ia memerlukan pelukan hangat dari saya ketika jenuh
pada kekasihnya. Meminta saya menemaninya walau hanya sekadar mutar-mutar di
Mall. Saya bisa apa saat ia memutuskan pacarnya demi saya dan menyudahi
hubungan kami ketika dia sadar, saya-dia-hanya sesaat. Saya tidak bisa menolak
itu. Saya tidak bisa menolak, ketika mimpi saya meminta saya.
Silahkan. Silahkan ia sebut saya
tak punya prinsip. Tapi dia seharusnya mengerti, cinta tanpa prinsip adalah hal
yang tak mudah. Tak dangkal. Bahkan, tak berujung. Sudah saya cari ribuan
hulu dari semua ini, tapi saya belum juga menemukannya. Bantu saya Kalea, bantu
saya untuk menemukan titik-titik cahaya atau jurang kematian.
***
Aku mumutuskan hubunganku dengan Ferdian.
Dan bisa kalian tebak, aku kembali pada Danial. Aku mulai mempercayakan segalanya pada Danial. Ku kira tak akan semudah waktu SMA, tapi kali ini aku yakin, hati bisa memilih.......
Aku bahagia. Minggu pertamaku sebagai kekasih Danial.
Rabu, 23 Januari 2013
Surat untuk Dahlan Iskan, NouraBooks.
Assalammu’alaikum, Bapak Dahlan Iskan.
Aku Aulia Masita, pelajar kelas 12 SMA dan belum mengerti apa itu hidup
sebenar-benarnya.
Entahlah pak, saat aku mememutuskan untuk menulis ini, aku bimbang apa yang
harus ku ketik di selembar microsoft word ini. Ku rasa terlalu sedikit, ketika
aku harus membahas kesan dan inspirasi apa yang bisa ku ambil darimu.
Sebelumnya, aku belum tahu siapa kau ‘dulu’. Sejujurnya, aku jarang sekali menonton
TV , terlebih melihat acara berita-berita yang membuat ku miris setiap harinya,
lalu menanggalkan Negeri ini yang sedang menjerit dan bermain kembali layaknya
remaja lainnya.
Di mulai dari membaca buku tentang ‘Surat Dahlan’. Entahlah, ada magis apa
di buku itu. Aku begitu tertarik serta diselimuti perasaan bodoh karena telah
mengabaikan jeritan Negeri ini. Aku begitu hanyut di dalamnya, masa kecilmu
yang begitu berbeda denganku sekarang, harusnya aku bisa lebih menghargai hidup
ini.
Pak, kalau ditanya apa yang membuatku terinspirasi darimu? Aku akan jawab
‘sepenuh harapan’. Iya, aku petik kata-kata tersebut dari novel ‘Surat Dahlan’.
Sepenuh harapan kau memperjuangkan semuanya, apa yang semestinya lurus, ‘harus
lurus’. Sesederhana itulah kau memikat masyarakat dengan kesederhanaanmu.
Mengenal kisahmu, membuatku berkobar menggapai cita-cita dan ku harap Tuhan
menjabahnya.
Aku hanya ingin menyampaikan kesan ku kali ini. Kesan terhadap laki-laki
yang telah memikat masyarakat Negeri ini. Aku bertanya-tanya “mengapa kau tak
ingin memimpin Negeri ini?” dan sesaat setelahnya, aku menjawab sendiri “mungkin
kau punya rencana sederhana lain, tentu selain menjadi pemimpin Negeri ini”.
Pak, seperti yang ku bilang tadi, 1 halaman microsoft word tak akan mampu
mengurai satu per satu perkataanku. Maaf kalau ada perkataanku yang tak berkenan.
Kalau kau sungguh membaca suratku, aku akan sangat berterimakasih pada ajang
lomba menulis yang diadakan NouraBooks ini, karena secara tak langsung aku
telah berbicarapadamu. Doaku selalu menyertaimu, bapak Dahlan Iskan.
Wassalamu’alaikum.
-Aulia Masita-
Langganan:
Postingan (Atom)

