Rabu, 08 Mei 2013

runaway.

Kalau menulis itu adalah sebuah nada dalam alat musikmu. Kali ini aku telah kehilangan banyak nada. Aku lupa caranya memainkan nada yang kamu ajarkan. Seperti kamu yang melupakan perasaan perempuan setipis kulit ari-mu sendiri. Seperti kamu yang lupa, kalau satu-satunya inspirasiku adalah kamu. Seperti kamu yang lupa barangkali bahagia itu tidak lagi nyata. Seperti kamu yang juga lupa, sekarang aku mengenggam tanganmu bukan yang lain.

Aku berusaha mencari tahu bagaimana dirimu. Apa yang dulu kamu takut-takutkan yang seiring waktu semakin bertambah parah, emosi. Bagaimana yang kau sebut-sebut tak berwujud itu bisa melupakan segalanya. Bagaimana ia bisa begitu saja melukaiku pada bagian-bagian yang selama ini kau coba jaga, hatiku. Bagaimana bisa kamu yang sekarang selemah ini? selemah ini memberikanku pada emosi yang kau rasakan, yang bahkan 5 menit kemudian bisa kau sesalkan. Aku nyeri membayangkan segalanya menimpaku, tapi aku lebih nyeri lagi jika aku yang akan melihatmu di posisiku. 

Aku sering lihat banyak kata-kata seperti "kalau hanya kamu yang bertahan, sedangkan dia tidak, untung apalagi kamu bertahan". Apa kita seperti itu? tidak kan? aku juga yakin kamu akan memperjuangkanku. Entahlah, aku tak pernah berada di posisimu, tapi ku rasa sangat-amat-berat. 
Perlahan tinta-tinta warna kita memudar. Kamu tahu artinya? ya. kita perlu membeli yang baru. Kita buat banyak warna lainnya kedepan dan kamu tahu, seharusnya kita sudah melupakan yang lalu sejak lama.

Aku tahu kamu hanya mengujiku.

Kalau waktu bisa berbicara, ia pasti akan mengintrogasimu terus menerus dengan pertanyaan 'kapan ujian untukku berakhir' dan kamu akan kepusingan mendengar ocehannnya. hehe

Sabtu, 30 Maret 2013


 

Perempuan itu menghilang. Entah lenyap dimakan sakit hati atau melihat namun tak memberi respons. Sebenarnya kamu di mata saya adalah hal ke sekian yang saya takutkan karena sebuah kehilangan. Kehilangan berbeda dari sebelumnya yang berhasil saya dapatkan kembali. Kehilangan yang membawa saya pada akhirnya kembali ke rumah saya. Rumah tua yang akan kami renovasi kembali. 





Puisi Sepi

Pagi ini begitu menguras habis peranku
Entah akan berdiri sebagai apa
Di tepi kesepian kamu berdiri
Entah menarik lembut lengan siapa

Aku seperti awal menulis bait puisi
Melupakan kiasan yang memutar otak
Dan aku menulis apa
Aku tak ingat

Puisi sepi ini tak berhulu
Namun tetap mencari hulu
Meski aku tahu
Hulu tak akan ada, untuk kamu di setiap baitku.


Jumat, 29 Maret 2013

Karena Hati tak perlu Memilih (Part 1)



Bukankah aku sudah melabuhkan janji saat semuanya kembali. Tapi kenapa ia masih saja ku temukan dalam setiap kecewa yang membingungkan? atau ku kira kami memang tidak berjodoh.


Kalau jodoh bisa ku pinta, aku akan memilihmu.


Terakhir kali, aku menemui laki-laki itu di lorong-lorong kelas di SMA. Laki-laki berperawakan tenang, tinggi, rambut sedikit gondrong yang menarik perhatian guru killer saat SMA untuk memangkas asal rambutnya. Aku sering menemui jantungku berdebar ratusan kali lebih hebat dari biasanya saat di hadapannya, tapi aku tak akan bisa menangkap matanya, sama seperti aku yang tidak akan bisa mencintainya, kala itu.


Bagaimana bisa setelah 3 tahun, aku merindunya.


Menunggu kiranya adalah perasaaan yang selalu siap dengan ketidakpastian, sama seperti rindu yang kian memuncak setelah 3 tahun aku kehilangan mata sendunya, selalu tak pasti, sampai senja-minggu-ke-8105, dia datang kembali setiap fajar dengan kata 'halo' yang menggaungiku sampai detik ini.


 "Karena hati tak perlu memilih"


Itulah sepenggal kalimat yang ia ucapkan selepas perkataanku kalau-dia-bukanlah-pemilik-rindu-rindu-murniku, di perpisahaan kita.  Tidak! bahkan dia tak mau menyebut itu perpisahaan. Selalu saja, selalu ia mampu mengenyuhkan perasaanku, tapi tidak untuk hatiku. Selalu. 

***

"Hai, apa kabar" Kata laki-laki itu mengagetkanku.


"Baik, kamu? akhirnya setelah 3 tahun" Kataku sambil tersenyum.


"Iya, kamu masih terlihat dingin, Kalea"


"Dan kamu masih saja menghipnotisku dengan matamu, Danial"


"Ada apa?" Ucap Danial mencari arah gerik mataku.


"Ah, kamu masih saja.....masih sama seperti dulu"


"Aku siap memasang telingaku lebar-lebar untukmu, asal kali ini kamu yang teraktir"  Danial mengangkat alisnya.


Danial yang paling tahu keadaanku, sejak dulu, sejak aku menangis di depannya dan mengatakan pemilik rindu-rindu murniku bukanlah Danial, bahkan Danial sudah tahu sebelum aku mengatakannya, dan kemudian ia memintaku melabuhkan kemana pun hatiku akan berlayar. Jauh. Entah kemana perginya.

Danial memainkan cangkir kopi di tangannya, memutar-mutar cangkir, sambil sesekali menatap mataku. Rambutnya yang dibiarkan sedikit panjang melebihi telinganya kini terlihat acak-acakan tertiup angin, kumis tipis yang akhirnya ia dapatkan setelah 3 tahun lalu di idam-idamkan, dan kacamata dengan frem hitam yang kini menghiasa wajahnya. Manis sekali.


Danial yang tak lagi sama. Sudah tak ada lagi debar jantung yang ratusan kali lebih cepat kali ini. Apa perasaanku berubah atau semakin dalam. Aku mulai mendoktrin diriku, ini tak akan berbeda, tak akan. Terlebih hubunganku dengan Ferdian sudah berlangsung selama 3 tahun belakangan ini. Tak mungkin aku menyerahkan begitu saja padanya, pada Danial yang dulu tak pernah mempunyai tempat di hatiku, sedikitpun.

Pembuktiannya sudah ada dan ini tak mungkin terjadi lagi. Tak mungkin aku mengulang hal bodoh untuk ke dua kalinya. Tak mungkin aku membiarkan rasa bosan menguasaiku dan menjadikan Danial pelampiasan kembali. Kembali memutuskan kekasihku, lalu berpacaran dengan Danial dan sebulan kemudian aku akan bilang “ ini bukan cinta tapi hanya fatamorgana di tengah kemarauku bersama Ferdian, aku tak sejatinya mencintaimu, Danial”.


AH! Nyeri membayangkannya saja. Aku masih ingat sekali tatapan Danial yang begitu sendu seperti langit sore yang akan berganti malam. Tatapan yang ingin diyakinkan bahwa ini semua adalah mimpi. Aku sakit hati melihat Danial. Aku sakit hati pada diriku yang tak bisa mencintainya kala itu.



***


Kalea, saya tidak bisa membohongi semuanya. 3 tahun tak cukup untuk meninggalkan sisa-sisa perasaan saya untuk dia. Perasaan rindu berkepanjangan yang memerlukan dia untuk membilas habis semuanya.


Kalau jodoh bisa saya pinta, saya akan memilihmu, Kalea.


Sungguh kalimat itu sejatinya adalah sebenar-benarnya perasaan saya terhadapnya. Bagaimana di sela-sela tidur tak nyenyak saya selalu dibarengi dengan wajahnya. Bagaimana saya mencoba menggantikannya dengan Annisa, perempuan Jogja yang beberapa bulan ini kian hadir di hidup saya. Perempuan lembut yang selalu menjaga tingkah lakunya di manapun dan kapan pun. Bagaimana bisa saya mengabarkan semua itu terhadapnya.


Kelu. Sekelu-kelunya perasaan saya terhadapnya. Sejak 4 tahun lalu saya menyerahkan perasaan saya pada Kalea. Sepenuhnya. Seutuhnya. Sampai saya linglung harus seperti apa menghadapinya, harus bersikap apa saat di depannya, seperti apa menempatkan diri saya saat ia sedih karena pacarnya (dulu), dan harus seperti apa saat saya mengetahui Kalea telah sendiri serta meminta saya selalu berada di sampingnya.


Saya bisa apa. Ketika mimpi saya meminta saya.


Mimpi. Kalea adalah mimpi bagi saya. Mimpi yang terlampau jauh tanpa usaha. Saya tak pernah sedikitpun berusaha menggapainya.  Ini cinta yang sulit. Namun, saya masih tetap mengusahakannya lewat doa. Saya harap Tuhan mendengarkannya, saya harap Tuhan memastikan doa-doa saya tercatat  secara lengkap tanpa tertinggal 1 kata pun.


Lalu saat mimpi saya meminta saya. Saya bisa apa saat ia memerlukan pelukan hangat dari saya ketika jenuh pada kekasihnya. Meminta saya menemaninya walau hanya sekadar mutar-mutar di Mall. Saya bisa apa saat ia memutuskan pacarnya demi saya dan menyudahi hubungan kami ketika dia sadar, saya-dia-hanya sesaat. Saya tidak bisa menolak itu. Saya tidak bisa menolak,  ketika mimpi saya meminta saya.


Silahkan. Silahkan ia sebut saya tak punya prinsip. Tapi dia seharusnya mengerti, cinta tanpa prinsip adalah hal yang tak mudah. Tak dangkal. Bahkan, tak berujung. Sudah saya cari ribuan  hulu dari semua ini, tapi saya belum juga menemukannya. Bantu saya Kalea, bantu saya untuk menemukan titik-titik cahaya atau jurang kematian.


***
Aku mumutuskan hubunganku dengan Ferdian. 

Dan bisa kalian tebak, aku kembali pada Danial. Aku mulai mempercayakan segalanya pada Danial. Ku kira tak akan semudah waktu SMA, tapi kali ini aku yakin, hati bisa memilih.......

Aku bahagia. Minggu pertamaku sebagai kekasih Danial.














Rabu, 23 Januari 2013

Surat untuk Dahlan Iskan, NouraBooks.


Assalammu’alaikum, Bapak Dahlan Iskan.
Aku Aulia Masita, pelajar kelas 12 SMA dan belum mengerti apa itu hidup sebenar-benarnya.
Entahlah pak, saat aku mememutuskan untuk menulis ini, aku bimbang apa yang harus ku ketik di selembar microsoft word ini. Ku rasa terlalu sedikit, ketika aku harus membahas kesan dan inspirasi apa yang bisa ku ambil darimu.
Sebelumnya, aku belum tahu siapa kau ‘dulu’. Sejujurnya, aku jarang sekali menonton TV , terlebih melihat acara berita-berita yang membuat ku miris setiap harinya, lalu menanggalkan Negeri ini yang sedang menjerit dan bermain kembali layaknya remaja lainnya.
Di mulai dari membaca buku tentang ‘Surat Dahlan’. Entahlah, ada magis apa di buku itu. Aku begitu tertarik serta diselimuti perasaan bodoh karena telah mengabaikan jeritan Negeri ini. Aku begitu hanyut di dalamnya, masa kecilmu yang begitu berbeda denganku sekarang, harusnya aku bisa lebih menghargai hidup ini.
Pak, kalau ditanya apa yang membuatku terinspirasi darimu? Aku akan jawab ‘sepenuh harapan’. Iya, aku petik kata-kata tersebut dari novel ‘Surat Dahlan’. Sepenuh harapan kau memperjuangkan semuanya, apa yang semestinya lurus, ‘harus lurus’. Sesederhana itulah kau memikat masyarakat dengan kesederhanaanmu. Mengenal kisahmu, membuatku berkobar menggapai cita-cita dan ku harap Tuhan menjabahnya.
Aku hanya ingin menyampaikan kesan ku kali ini. Kesan terhadap laki-laki yang telah memikat masyarakat Negeri ini. Aku bertanya-tanya “mengapa kau tak ingin memimpin Negeri ini?” dan sesaat setelahnya, aku menjawab sendiri “mungkin kau punya rencana sederhana lain, tentu selain menjadi pemimpin Negeri ini”.
Pak, seperti yang ku bilang tadi, 1 halaman microsoft word tak akan mampu mengurai satu per satu perkataanku. Maaf kalau ada perkataanku yang tak berkenan. Kalau kau sungguh membaca suratku, aku akan sangat berterimakasih pada ajang lomba menulis yang diadakan NouraBooks ini, karena secara tak langsung aku telah berbicarapadamu. Doaku selalu menyertaimu, bapak Dahlan Iskan. Wassalamu’alaikum.
-Aulia Masita-

Kamis, 25 Oktober 2012

UMT POEMS DAY

    Alhamdulillah ini puisi pertama yang berhasil meraih juara 2 di Universitas Muhammadiyah Tangerang. Puisi dibuat pada saat acara dimulai, tema juga diberitahu saat acara akan dimulai. Puisi ini bertemakan Bahasa dan Budaya.

Kami akan Menggenapkan Janji

Hembuskan napas-napas kau disini---di negerimu
Dulu kau ingat?
Ah, tidak. Kau hanya mendengar
memperkuat indera pendengaran 
lalu utopis perlahan menghampiri


Dimulai dari 17 Agustus 1945
Jati diri mulai menyeruak ingin di daulat


Kami Indonesia! 
Berbahasa satu, bahasa Indonesia
Kami Indonesia!
Budaya bagai air putih teman minum obat, kau.


Dimulai dari 17 Agustus 1945
Jati diri mulai menyeruak ingin di daulat


Tengoklah Aceh kami sejenak
Gemulai penari diiringi syekh lantang
mengangkat kuduk ditangkap kornea
Saman, sayang.


Irian Jaya.
Tanah gembur, berladang emas.
Bahasa daerah ujung Indonesia
Indah berpeluruh jiwa.


Dimulai dari 17 Agustus 1945
Jati diri mulai menyeruak ingin di daulat


Kami sudah tak membawa kelewang
atau meneriakkan MERDEKA!!! sebelum berperang

Kala itu,
Saat sekutu memandang tetua kami
hanya embun yang menyeka kotoran pada dedaunan
kemudian, musnah.


Dimulai dari 17 Agustus 1945
Jati diri mulai menyeruak ingin di daulat


Di pundak kami
Di pundak Indonesia
Mengintegrasikan bahasa
Mengintergrasikan budaya
sebut saja,
Bhinneka Tunggal Ika 


Rindu kami padamu negeri
dengan jiwa-jiwa berpelongok kosong
Kami ketuk
Bahasa dan budaya pengisinya
berkerangkeng masa jajahan
Dimulai dari 17 Agustus 1945
Kami pewaris
Kami akan menggenapkan janji.





Aulia Masita


Rabu, 17 Oktober 2012

Puisi Cahaya Bulan- ost.Gie


Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan pelan di Lembah Kasih
Lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap
Kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta

Cahaya bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu
Bagaikan letusan berapi
Membangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban kegelisahan hati